Jogjahitz.com, Tabanan – Seorang pria berinisial KD (45), warga Desa Sidetapa, Kec. Banjar, Kab. Buleleng, Bali, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kec. Baturiti, Kabupaten Tabanan, pada Jumat (24/7) sekitar pukul 01.30 WITA. Peristiwa tersebut terjadi setelah korban diduga tepergok mencuri ayam aduan milik warga.
Kasi Humas Polres Tabanan, Iptu Ni Luh Putu Wiwik Endrayani, menjelaskan bahwa peristiwa bermulai ketika KD diduga hendak membawa kabur seekor ayam milik seorang warga. Aksi tersebut diketahui warga sekitar yang kemudian mengamankan korban. Situasi berubah menjadi aksi pengeroyokan hingga KD meninggal dunia di lokasi kejadian.
“Warga emosi karena maraknya kasus kehilangan ayam di wilayah tersebut kemudian melakukan pengeroyokan terhadap terduga pelaku hingga meninggal dunia di lokasi kejadian,” ujar Wiwik.
Baca juga: Kebakaran Lahan Hanguskan 8 Hektare Perbukitan di Bantul
Selain korban meninggal, sepeda motor yang digunakan KD juga dilaporkan dibakar massa. Saat tiba di lokasi sekitar pukul 02.00 WITA, petugas kepolisian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk ayam yang diduga menjadi objek pencurian, sebilah golok, tas berisi beberapa peralatan, serta kendaraan milik korban yang telah hangus terbakar.
Polres Tabanan kini menangani dua aspek dalam perkara tersebut, yakni dugaan tindak pidana pencurian ayam dan dugaan tindak pidana pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Hingga kini, polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan tersebut dan penyidikan masih terus berlangsung.
Di balik peristiwa itu, keluarga korban kini harus menghadapi duka yang mendalam. KD meninggalkan seorang istri, Putu Dewi Suryantini (35), beserta tiga orang anak yang masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan.
Dalam video wawancara yang diunggan akun Instagram @berita_gosip, Dewi mengaku suaminya telah tiga hari tidak pulang ke rumah sebelum kabar duka diterimanya. Ia mengira sang suami sedang berusaha mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Saya hanya berpikir mungkin suami pergi mencari uang untuk biaya sekolah anak,” ujar Dewi.
Menurut Dewi, keluarga masih memiliki tanggungan biaya pendidikan anak sekitar Rp. 2,7 juta sehingga ia menduga suaminya berusaha mencari penghasilan tambahan sebelum peristiwa nahas tersebut terjadi.
Baca juga: Open Turnamen Catur Bupati Cup XVI Kembali Digelar, Dorong Lahirnya Atlet Berprestasi
Sementara itu, pihak kepolisian menegaskan proses hukum akan dilakukan terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam insiden tersebut. Polisi juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri apabila menemukan dugaan tindak pidana.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan Tindakan main hakim sendiri dan menyerahkan penanganan setiap dugaan tindak pidana kepada aparat penegak hukum,” kata Kepala Subbidang Penmas Bidang Humas Polda Bali, AKBP Rina Isriana Dewi.





