Jogjahitz.com, Kubu Raya — Ketersediaan air bersih menjadi salah satu kondisi yang ditemui mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif selama menjalankan BSI Explore 2026 di Desa Radak Baru dan Radak 1, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya.
Sebagian masyarakat memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk kebutuhan memasak dan air bersih, warga mengandalkan air hujan yang ditampung.
Baca juga: Tim BSI Explore Dampingi Kegiatan Pramuka di SD Negeri 2 Gunung Gajah
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari sungai, sumur menjadi salah satu sumber air. Namun, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika musim kemarau tiba.
Saat curah hujan mulai berkurang, persediaan air hujan yang ditampung semakin menipis. Air sungai mengalami penyusutan, sementara ketersediaan air dari sumur juga dapat berkurang.
Kondisi air di wilayah tersebut juga memiliki karakteristik khas daerah gambut. Air yang diperoleh masyarakat tidak selalu jernih, melainkan memiliki warna kecokelatan yang berasal dari karakteristik tanah gambut. Ketika musim kemarau berlangsung, kondisi air dapat semakin keruh dan bercampur lumpur.
Tiara Sari, anggota BSI Explore 2026 mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membuka pemahaman mahasiswa mengenai kehidupan masyarakat di Desa Radak Baru dan Radak 1.
“Selama berada di sini, kami melihat langsung bagaimana masyarakat memanfaatkan sumber air yang tersedia. Untuk mandi dan mencuci, sebagian warga menggunakan air sungai, sedangkan untuk kebutuhan lainnya ada yang mengandalkan air hujan atau sumur,” ujar Tiara dalam keterangan pers, Kamis (13/8).
Menurutnya, kondisi tersebut semakin terasa ketika musim kemarau tiba. Masyarakat harus lebih bijak dalam menggunakan persediaan air karena sumber air yang tersedia mulai mengalami penurunan.
“Ketika hujan jarang turun, air yang ditampung tentu semakin berkurang. Air sungai juga surut dan beberapa warga yang menggunakan sumur mengalami keterbatasan air. Kondisi seperti ini membuat kami memahami bahwa air bersih merupakan kebutuhan yang tidak selalu mudah diperoleh oleh semua masyarakat,” jelasnya.
Tiara menambahkan, kondisi tersebut menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa dalam menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
“Selama ini mungkin kami menganggap air bersih sebagai sesuatu yang mudah didapatkan. Namun, setelah melihat langsung kondisi masyarakat di sini, kami belajar bahwa ada daerah yang harus benar-benar mengatur penggunaan air, terutama ketika musim kemarau,” katanya.
Kondisi sanitasi dan ketersediaan air menjadi salah satu gambaran kehidupan masyarakat yang ditemui mahasiswa selama BSI Explore 2026.
Bagi mahasiswa, kegiatan pengabdian tidak hanya menjadi kesempatan untuk melaksanakan program kerja. Kehadiran mereka di tengah masyarakat juga menjadi proses belajar untuk memahami kondisi sosial dan lingkungan secara langsung.
Baca juga: BSI Explore 2026 Hadir di Gunung Gajah, Siap Bersinergi Bersama Sekolah dan Masyarakat
Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa UBSI Kampus Pontianak belajar bahwa setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda. Kondisi tersebut menjadi dasar penting untuk memahami kebutuhan masyarakat dan membangun program yang sesuai dengan karakteristik lingkungan.
Di tengah keterbatasan sumber air, masyarakat Desa Radak Baru dan Radak 1 terus beradaptasi dengan memanfaatkan sungai, menampung air hujan, serta menggunakan sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.





