Yogyakarta –13 November 2024 Dalam upaya meningkatkan kesadaran pariwisata berkelanjutan, Universitas BSI Kampus Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Pariwisata dengan tema “Membangun Kesadaran Pariwisata Berkelanjutan: Peran Guru dan Strategi Komunikasi dalam Mendidik Generasi Penerus” pada Rabu, 13 November 2024. Acara ini berlangsung di Wisma BSI Yogyakarta, Jl. Ringroad Barat Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.
Seminar ini dihadiri oleh 45 guru Bimbingan dan Konseling (BK) dari SMA/MA di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dari total 50 undangan yang disebarkan. Kehadiran para guru ini menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam memahami dan mendalami peran mereka dalam mempromosikan pariwisata berkelanjutan kepada generasi muda.
Dalam sambutannya, Kepala Kampus Universitas BSI Yogyakarta, Bapak Vadlya Ma’arif, M.Kom, menyampaikan ucapan terima kasih kepada para peserta yang telah hadir dan menyambut hangat seluruh undangan. Beliau juga memperkenalkan berbagai program beasiswa yang tersedia di Universitas BSI, yang ditujukan untuk mendukung pendidikan lebih lanjut bagi siswa-siswi berprestasi dari berbagai latar belakang ekonomi. “Semoga kesempatan beasiswa ini dapat membantu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kesadaran sosial yang tinggi,” ujar Vadlya dalam pidatonya.
Dr. Ani Wijayanti, M.Par, CHE, seorang ahli dalam bidang pariwisata berkelanjutan, diundang sebagai narasumber utama pada seminar ini. Dalam paparannya, Dr. Ani menekankan pentingnya peran guru dalam menyampaikan konsep-konsep pariwisata berkelanjutan di sekolah. Beliau juga memberikan pemahaman mendalam mengenai strategi komunikasi yang efektif agar para siswa tertarik dan mampu memahami isu-isu lingkungan, sosial, serta ekonomi yang terkait dengan pariwisata.
“Kami membutuhkan sinergi antara pendidikan dan dunia pariwisata. Guru-guru memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran ini kepada generasi penerus,” ungkap Dr. Ani. Selain itu, beliau juga memberikan contoh konkret mengenai praktik pariwisata berkelanjutan di beberapa negara yang dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan wisata lokal di Yogyakarta.
Seminar ini dipandu oleh Emmita Devi Hari Putri, S.Par, MM, yang berperan sebagai moderator. Emmita berhasil membawa diskusi berjalan lancar dan menarik, sehingga para peserta aktif berpartisipasi dan berinteraksi dengan narasumber.
Antusiasme peserta semakin terasa saat sesi tanya jawab berlangsung. Salah satu peserta, Bapak Arif, mengajukan pertanyaan tentang cara mengatasi konflik kepentingan dalam penetapan tarif fasilitas pariwisata. Menurutnya, tarif yang tidak konsisten seringkali menjadi keluhan wisatawan karena dianggap memberatkan. Menanggapi pertanyaan ini, Dr. Ani memberikan saran agar pihak pengelola pariwisata dapat lebih transparan dan adil dalam penetapan tarif serta mempertimbangkan kesejahteraan jangka panjang wisatawan dan pengelola.
Sementara itu, Ibu Hartuti, Ketua Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Kabupaten Bantul, turut mengutarakan kekhawatirannya mengenai penurunan daya tarik wisata kuliner lokal yang pernah menjadi ikon daerah. “Beberapa kuliner lokal yang dulunya menjadi favorit sekarang sepi pengunjung, bahkan beberapa usaha sudah kolaps,” ungkap Ibu Hartuti. Dr. Ani menanggapi dengan menyarankan pengembangan strategi pemasaran digital serta kolaborasi dengan influencer lokal sebagai cara untuk menarik minat generasi muda terhadap wisata kuliner lokal.
Seminar ini berhasil memberikan wawasan baru dan pemahaman yang lebih mendalam kepada para guru tentang pentingnya pariwisata berkelanjutan. Mereka diharapkan dapat menjadi pionir dalam mendidik generasi muda untuk menjaga, menghargai, dan melestarikan alam serta budaya lokal.
Melalui kegiatan ini, Universitas BSI Kampus Yogyakarta tidak hanya mengedukasi masyarakat tentang pariwisata berkelanjutan, tetapi juga turut mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri pariwisata. Harapannya, seminar ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan generasi yang peduli terhadap keberlanjutan pariwisata dan mampu membawa perubahan positif bagi perkembangan pariwisata di Indonesia





