Budaya

Mengenal Saparan Bekakak Dan Legenda Kyai Wirasuta Yang Tak Lekang Oleh Waktu

×

Mengenal Saparan Bekakak Dan Legenda Kyai Wirasuta Yang Tak Lekang Oleh Waktu

Sebarkan artikel ini

Jogjahitz.com, Yogyakarta – Tradisi saparan bekakak kembali digelar oleh masyarakat kalurahan Ambarketawang, Gamping, kab. Sleman, D.I. Yogyakarta pada Jumat (17/7) lalu. Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih lestari dan rutin dilaksanakan setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa.

Mengutip video yang diunggah akun TikTok @fikasipiko, tradisi tersebut berawal dari kisah Kyai dan Nyai Wirosuto, sepasang abdi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I yang dikenal setia menjaga Pesanggrahan Ambarketawang. Dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, keduanya memilih tetap tinggal ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I memindahkan pusat pemerintahan dari Ambarketawang ke Keraton Yogyakarta.

Baca juga: Menikmati Liburan di Yogyakarta, Perpaduan Alam, Budaya, dan Kuliner

Namun, peristiwa tragis kemudian terjadi. Gunung Gamping yang berada tidak jauh dari pesanggrahan dilaporkan runtuh dan menimbun Kyai serta Nyai Wirosuto. Jasad keduanya tidak pernah ditemukan, seolah hilang ditelan bebatuan kapur yang longsor.

Cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa setelah peristiwa tersbur, berbagai kejadian tidak biasa mulai terjadi di sekitar Gunung Gamping. Bahkan, sejumlah pasangan pengantin yang melintas di kawasn tersebut menjadi korban. Masyarakat kala itu meyakini Gunung Gamping telah murka.

Dalam kisah yang dituturkan secara turun-temurun, kemarahan alam tersebut dikaitkan dengan aktivitas penambangan batu kapur yang dilakukan secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan industri gula yang berkembang pada masa itu. Kerusakan lingkungan yang terjadi dipercaya telah mengganggu keseimbangan alam di Kawasan Gunung Gamping.

Kabar tersebut kemudian sampai kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I. untuk mengenang pengabdian Kyai dan Nyai Wirosuto sekaligus memohon keselamatan bagi masyarakat, Sultan disebut memberikan sabda agar setiap bulan Sapar, tepatnya antara tanggal 1 hingga 20, dilaksanakan upacara Saparan Bekakak.

Sebagai bagian dari ritual tersebut, masyarakat membuat sepasang boneka pengantin dari ketan yang kemudian diarak dan disembelih secara simbolis. Prosesi itu dipercaya menjadi pengganti korban manusia sekaligus bentuk penghormatan terhadap Kyai dan Nyai Wirosuto yang meninggal saat menjalankan tugas.

Baca juga: Jelajah Budaya dan Komunikasi Global, Usman Mahasiswa UBSI Ceritakan Pengalaman Berharga di Edutrip Internasional

Bagi masyarakat Ambarketawang, Saparan Bekakak memiliki makna lebih dari sekadar ritual adat. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Hingga kini, tradisi Saparan Bekakak masih terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Gamping. Melalui tradisi tersebut, nilai-nilai sejarah, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelah zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *