Event Kampus

Kemerdekaan Digital dan Warisan Budaya Jogja

×

Kemerdekaan Digital dan Warisan Budaya Jogja

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta – Kemerdekaan tidak lagi sekadar dimaknai sebagai bebas dari penjajahan fisik, melainkan juga kebebasan dalam menguasai ruang baru: dunia digital. Di era serba terkoneksi, istilah kemerdekaan digital hadir sebagai gagasan tentang kedaulatan masyarakat dalam menggunakan, mengelola, dan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan bangsa.

Kemerdekaan digital berarti masyarakat tidak hanya menjadi konsumen teknologi asing, tetapi juga mampu menjadi produsen konten, inovator, bahkan pencipta ekosistem digital yang mandiri. Ini mencakup literasi digital, keamanan data, kedaulatan informasi, hingga etika bermedia. Jika dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing, kini perjuangan terletak pada bagaimana generasi muda mampu berdaulat di dunia maya—menggunakan teknologi tanpa kehilangan identitas, jati diri, dan budaya bangsa.

Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Kampus Yogyakarta menangkap isu penting ini melalui Seminar Kemerdekaan Digital yang akan digelar pada Kamis, 4 September 2025 di Yogyatorium Dagadu Djokdja. Mengusung tema “Harmonizing Creativity and Innovation Based on Heritage”, seminar ini berupaya mengupas tuntas bagaimana kemerdekaan digital dapat berjalan beriringan dengan pelestarian warisan budaya Yogyakarta.

Perpaduan antara digitalisasi dan budaya lokal menjadi sangat relevan. Yogyakarta sebagai kota budaya memiliki kekayaan warisan berupa seni, tradisi, dan kearifan lokal yang dapat diperkuat melalui teknologi digital. Misalnya, bagaimana teknologi dapat mendokumentasikan seni tari klasik, memasarkan batik ke pasar global, atau menghidupkan kembali kearifan lokal melalui platform digital yang interaktif.

Sebagai salah satu dosen di Universitas BSI, saya, Vadlya Maarif, melihat bahwa kemerdekaan digital adalah kesempatan emas untuk menghubungkan masa lalu dan masa depan. Melalui digitalisasi, budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diberi ruang untuk berkembang di panggung global. Namun, tentu saja, kemerdekaan digital harus diiringi dengan literasi yang memadai agar masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pemain aktif dalam transformasi digital.

Seminar ini semakin istimewa dengan kehadiran Keynote Speaker G.K.R. Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY, yang akan membuka wawasan tentang sinergi antara promosi budaya dan penguatan ekosistem digital di Yogyakarta.

Selain itu, diskusi akan diperkaya oleh para narasumber yang berkompeten di bidangnya: Isnielma Nurwulan, Head of Creative Marketing & Innovation of HeHa Group, yang akan berbicara tentang strategi inovasi kreatif di era digital. Mia Argianti, Direktur Dagadu, yang akan mengulas perjalanan brand lokal legendaris dalam memadukan budaya dengan strategi pemasaran modern. Dr. Ani Wijayanti, M.Par., CHE, Dekan FEB UBSI, yang akan mengulas perspektif akademik sekaligus praktik implementasi kemerdekaan digital dalam sektor ekonomi dan pariwisata.

Seminar ini diharapkan menjadi wadah refleksi sekaligus inspirasi. Refleksi, karena kita diajak kembali merenungi makna kemerdekaan di era modern. Inspirasi, karena dari sini akan lahir ide-ide kreatif untuk mengintegrasikan inovasi teknologi dengan identitas budaya bangsa.

Dengan hadirnya berbagai narasumber lintas bidang, BSI Yogyakarta ingin membuktikan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori, melainkan pusat pertemuan gagasan tentang masa depan bangsa. Harapannya, semangat kemerdekaan digital mampu menjadi fondasi bagi generasi muda untuk terus berkreasi, berinovasi, dan membawa budaya Indonesia mendunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *