Jakarta – Kalau ada yang mikir materi akademik paling bikin ngantuk, ternyata ada satu sesi yang bikin mahasiswa baru Cyber University mendadak melek, yaitu materi dari Kukuh Panggalih, selaku CCO (Chief Creative Officer) DICO (Digital Creative Community).
Daripada langsung kasih teori yang bikin pusing, Kukuh dengan santainya nyeletuk, “Indonesia tuh sering ketinggalan tren digital 2–5 tahun dari luar negeri.”
Bayangin, pas orang luar negeri udah sibuk pake AI buat bikin film, kita di sini masih ribut soal “AI bisa gantiin kerjaan manusia nggak, ya?”
Tapi tenang, menurut Kukuh, DICO hadir untuk ngajak mahasiswa jadi pemain, bukan sekadar penonton. Ia ngejelasin gimana AI bisa jadi partner kerja paling setia, bisa lembur 24/7 tanpa ngeluh, bantu bikin keputusan cepat, bikin perusahaan lebih efisien, sampai ngubah cara kerja sehari-hari.
Selain itu, Kukuh juga ngenalin fokus gerakan DICO, seperti bikin workshop teknologi, bootcamp, mentoring pebisnis muda, produksi konten edukasi, sampai hackathon. Bahkan ada inkubator bisnis digital. Singkatnya, DICO itu kayak “markas Avengers”-nya anak digital kreatif. Bedanya, senjatanya bukan perisai Captain America, tapi laptop dengan baterai full.
Kerja sama DICO pun erat dengan Cyber University yang terkenal sebagai The First Fintech University in Indonesia, sebagai salah satu partner penting. Harapannya, mahasiswa di kampus ini bisa jadi motor penggerak kreatif di era digital, bukan sekadar penonton tren dari jauh.
Yang bikin Aula makin rame, Kukuh ngumumin kompetisi konten AI dengan tema “Serunya Sinergi Cyber University”. Caranya gampang: bikin foto hasil edit AI, upload ke IG atau TikTok, tag @dico.community, tulis prompt AI yang dipakai, jangan lupa hashtag #CERMAI #CerdasMahirAI. Pemenang bakal diumumkan live tanggal 23 September 2025. Jadi, siap-siap aja, ini kesempatan mahasiswa baru Cyber University buat unjuk gigi kreatif.
Sebagai penutup, Kukuh ngasih pesan yang bikin mahasiswa baru merenung, “Kalau Indonesia sering telat tren, jangan sampai kalian ikutan telat. Jangan jadi generasi FOMO abadi. Belajar teknologi sekarang, atau siap-siap ketinggalan besok.”
Hasilnya, Aula Cyber University pagi itu bukan cuma ajang formalitas PKKMB, tapi juga jadi ruang motivasi digital. Mahasiswa baru pun pulang dengan PR bukan cuma siap kuliah, tapi juga siap jadi kreator digital yang adaptif, kreatif, dan nggak gampang kalah sama tren global.





