Jakarta – Biasanya kalau ada materi soal aturan kampus, mahasiswa baru langsung refleks, ngantuk, main HP, atau pura-pura nyatet. Tapi kali ini lain.
Michael Sitorus, Ketua Satgas PPKPT Cyber University, naik panggung, kalimat pertamanya langsung bikin suasana Aula hening, “Pendidikan tinggi itu batu loncatan. Jadi kampus harus bebas dari kekerasan. Titik.”
Bukan sekadar teori, Michael nyodorin data yang lumayan bikin merinding. 88% kasus kekerasan di lembaga pendidikan adalah kekerasan seksual. Dari angka itu, 35% terjadi di kampus. Lebih ngeri lagi, 77% dosen tahu kasus itu pernah terjadi, tapi 63% milih bungkam. Jadi jangan heran kalau banyak kasus mandek sebelum sempat diselesaikan.
Michael nggak cuma nyebut angka. Ia juga jelasin efek domino kekerasan di kampus, korban bisa kehilangan prestasi, bahkan ada yang berhenti kuliah sebelum lulus. Nama baik kampus pun bisa hancur seketika. Singkatnya, sekali ada kasus, semua kena getahnya.
Makanya, lewat Permendikbudristek No. 30/2021 dan No. 55/2024, pemerintah mewajibkan kampus bikin sistem pencegahan dan penanganan kekerasan. Cyber University pun sudah bentuk Satgas PPKPT, lengkap dengan email dan nomor hotline, biar mahasiswa tahu harus lapor ke mana.
Michael ngasih contoh sederhana, “Kalau kalian punya masalah akademik, lapornya ke dosen. Kalau ada masalah finansial, ke bagian keuangan. Tapi kalau ada kasus kekerasan, jangan diam. Satgas ada buat kalian.”
Penutupnya keras tapi ngena, “Kuliah itu buat cari ilmu, bukan cari korban. Jadi jangan pernah normalisasi kekerasan di kampus. Kalau kalian diam, kalian ikut jadi bagian masalah.”
Mahasiswa baru pun akhirnya sadar, PKKMB bukan cuma soal nyanyi Indonesia Raya atau tour kampus. Ada PR besar, bikin Cyber University sebagai The First Fintech University in Indonesia jadi ruang aman. Karena percuma IPK 4.0 kalau lingkungannya toxic.





