YOGYAKARTA – Tim Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar Rapat Riset Produksi Karya Batik Tulis Pewarna Alam pada Selasa (20/1/2026) pukul 09.30–12.00 WIB. Kegiatan berlangsung di Ruang Perpustakaan Universitas BSI Kampus Yogyakarta, Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman, D.I. Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya memadukan tradisi batik tulis dengan inovasi berbasis riset motif Yogyakarta dan Bali.
Rapat dipimpin oleh Ketua Tim, R. Jatinurcahyo, ST, MM., dan dihadiri oleh Yulianto, SE, MM; Eko Saputro, M.Kom; Atun Yulianto, SE, MM; Akhmad Syukron, M.Kom; Supriyanta, M.Kom; serta Syaid Andika, S.Kom. Agenda utama pertemuan ini mencakup perencanaan proses produksi karya batik tulis berbasis pewarna alam, penentuan teknis pelaksanaan mulai desain hingga finishing, serta persiapan bahan baku dan peralatan produksi.
Dalam pembahasan, tim menekankan penggunaan kain sutra sebagai media utama karena daya serap warna yang tinggi dan nilai estetika yang menonjol. Teknik pembatikan dilakukan secara manual menggunakan canting untuk memastikan kualitas dan mempertahankan nilai tradisional. Pewarnaan difokuskan pada bahan alami seperti Indigofera tinctoria (biru), Caesalpinia sappan (merah), dan Cudrania javanensis (kuning), dengan perhatian khusus pada proses ekstraksi dan fiksasi warna agar hasil tetap stabil dan aplikatif.
Ketua Tim, R. Jatinurcahyo, menekankan bahwa penyesuaian desain dengan kondisi teknis produksi menjadi hal penting. “Desain yang kami pilih harus tetap menghormati filosofi dan estetika motif tradisional, tetapi juga dapat diwujudkan secara teknis di kain sutra dengan pewarna alam. Proses ini menjadi jembatan antara riset akademik dan praktik kerajinan,” ujarnya.
Produksi batik tulis ini menggabungkan elemen motif Keraton Yogyakarta dan motif sakral Bali, menjaga keseimbangan antara nilai tradisi, estetika, dan aspek fungsional. Tim menekankan pentingnya pembagian tugas yang jelas dalam tiap tahap, mulai dari desain, pembuatan pola, pembatikan, pewarnaan, hingga finishing, untuk memastikan kualitas karya tetap konsisten.
Rapat juga menjadi forum untuk menyelaraskan kegiatan dengan program Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI, yang didukung pendanaan LPDP, sehingga riset dan produksi batik berbasis pewarna alam dapat terlaksana dengan dukungan akademik dan sumber daya yang memadai. Melalui kolaborasi ini, UBSI memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan yang aktif mendorong inovasi berbasis tradisi dan kearifan lokal.
Hasil rapat menyepakati beberapa poin utama. Pertama, penggunaan kain sutra sebagai bahan utama produksi. Kedua, penetapan tahapan produksi mulai desain → pola → pembatikan → pewarnaan → finishing. Ketiga, pewarna alam ditetapkan sebagai ciri khas karya. Keempat, pembagian tugas dalam tim produksi telah ditentukan untuk efisiensi dan kualitas.
Rencana selanjutnya mencakup finalisasi desain motif, pengadaan bahan baku termasuk kain, malam, pewarna alam, dan bahan fiksasi, pelaksanaan uji coba pewarnaan kain, persiapan proses pembatikan tahap awal, serta penyusunan jadwal produksi karya secara terstruktur.
Dengan langkah-langkah ini, UBSI bersama Tim Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI berkomitmen menghadirkan karya batik tulis inovatif yang memadukan nilai tradisi, keberlanjutan pewarna alam, dan standar produksi profesional, sebagai wujud pelestarian dan pengembangan budaya Nusantara.





