YOGYAKARTA – Tim Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar Rapat Riset Seleksi Motif dan Konsep Desain Final pada Kamis (15/1/2026) pukul 08.30–12.00 WIB. Pertemuan berlangsung di Ruang Perpustakaan Universitas BSI Kampus Yogyakarta, Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman, D.I. Yogyakarta.
Rapat dipimpin oleh Ketua Tim, R. Jatinurcahyo, ST, MM., dan dihadiri Yulianto, SE, MM; Eko Saputro, M.Kom; Atun Yulianto, SE, MM; Akhmad Syukron, M.Kom; Supriyanta, M.Kom; serta Syaid Andika, S.Kom. Agenda utama pertemuan ini adalah melakukan seleksi motif batik yang akan dikembangkan sekaligus mematangkan konsep desain final sebagai luaran riset.
Dalam sesi pembahasan, tim melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sejumlah motif yang sebelumnya telah diinventarisasi. Seleksi dilakukan berdasarkan kedalaman filosofi, kekuatan estetika visual, serta kemungkinan pengembangan desain tanpa menghilangkan makna aslinya. Pertimbangan tersebut dinilai krusial agar inovasi yang dihasilkan tetap berpijak pada nilai budaya.
Tim juga membahas strategi penggabungan unsur Yogyakarta dan Bali dalam satu rancangan motif. Unsur batik larangan dari tradisi Keraton Yogyakarta dikaji secara hati-hati, terutama terkait nilai simbolik dan batasan penggunaannya. Sementara itu, motif sakral Bali dianalisis dari sisi struktur ornamen, komposisi, serta konteks spiritualnya. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran pakem maupun reduksi makna sakral.
Ketua Tim, R. Jatinurcahyo, menegaskan bahwa eksplorasi desain harus dilandasi tanggung jawab akademik dan etika budaya. “Kami tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga tentang penghormatan terhadap nilai sakral dan batasan penggunaan motif. Proses seleksi ini menjadi tahap krusial sebelum masuk ke pengembangan desain,” ujarnya.
Diskusi berkembang pada kemungkinan meramu elemen visual khas Yogyakarta yang cenderung tegas dan simetris dengan karakter ornamen Bali yang lebih dinamis dan dekoratif. Harmonisasi kedua tradisi tersebut dirancang bukan untuk mencampur secara bebas, melainkan merangkai elemen yang secara filosofis memiliki irisan makna, seperti keseimbangan, keteguhan, dan keselarasan dengan alam.
Program ini merupakan bagian dari Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI yang didukung skema pendanaan LPDP. Melalui dukungan tersebut, UBSI memperkuat komitmennya dalam menghadirkan riset berbasis budaya yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga aplikatif bagi pengembangan industri kreatif.
Hasil rapat menyepakati beberapa keputusan strategis. Pertama, tim menetapkan sejumlah motif utama yang dinilai paling representatif untuk dikembangkan pada tahap desain. Motif-motif tersebut dipilih karena memiliki landasan filosofi kuat sekaligus ruang eksplorasi visual yang memadai. Kedua, disepakati konsep besar bertajuk “Harmoni Tradisi dan Alam” sebagai benang merah dalam pengembangan desain final.
Konsep tersebut menekankan perpaduan nilai tradisional dengan kesadaran ekologis, sejalan dengan riset sebelumnya mengenai pewarna alam. Dengan demikian, desain yang dihasilkan tidak hanya mengangkat identitas budaya Yogyakarta dan Bali, tetapi juga mencerminkan keberlanjutan lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, tim merencanakan pengembangan desain awal serta penyusunan sketsa motif batik kombinasi larangan Keraton Yogyakarta dan sakral Bali. Tahap ini akan menjadi proses kreatif terstruktur sebelum masuk pada uji visual dan produksi prototipe.
Melalui rapat riset seleksi motif dan pematangan konsep desain final ini, UBSI bersama Tim Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI menegaskan komitmennya untuk menghadirkan karya batik inovatif yang tetap menghormati akar tradisi, menjaga etika budaya, dan menjawab tantangan zaman secara profesional.





