Jogjahitz.com, Yogyakarta – Kotagede selama ini dikenal sebagai kawasan bersejarah peninggalan Mataram Islam, sentra kerajinan perak, wisata religi, dan cagar budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, di balik citra tersebut, muncul sebuah band rock-punk yang berupaya memperkenalkan sisi lain Kotagede melalui musik. Band tersebut adalah The Kick, grup musik yang sejak awal memilih menyematkan nama Kotagede sebagai bagian dari identitas mereka.
Mengutip informasi yang dibagikan akun TikTok @hey.yogya, The Kick tidak ingin dikenal hanya sebagai band asal Yogyakarta. Mereka justru menegaskan diri sebagai band asal Kotagede, menjadikan wilayah itu sebagai sumber inspirasi sekaligus identitas dalam setiap karya yang mereka ciptakan.
The Kick beranggotakan Jiwe (vokal), Ammar (gitar utama), Arul (gitar ritme), Adit (bass), dan Rizky (drum). Perjalanan mereka bermula saat seluruh personel aktif menjadi sukarelawan dalam penyelenggaraan Pasar Keroncong Kotagede, sebuah festival musik yang mengangkat tradisi keroncong.
Baca juga: Penyanyi Cilik Amira Kim Gaungkan Cinta Indonesia Lewat Musik
Di tengah kuatnya budaya keroncong di Kotagede, mereka melihat masih minim ruang bagi anak muda yang ingin berekspresi melalui musik modern. Dari keresahan tersebut, The Kick hadir bukan untuk menggantikan musik tradisional, melainkan menambah warna baru dalam ekosistem musik di Kotagede.
Selain aktif sebagai sukarelawan, para personel The Kick rutin berkumpul di angkringan milik orang tua salah satu anggota yang berada di depan Pasar Kotagede. Tempat sederhana itu menjadi ruang berdiskusi, bertukar referensi musik, sekaligus membahas berbagai keresahan mengenai kehidupan anak muda di Kotagede yang mereka anggap masih monoton.
Dari obrolan di angkringan itulah muncul gagasan membentuk sebuah band. The Kick resmi berdiri pada awal 2016 dan mengawali perjalanan musiknya dengan tampil di berbagai acara seni kampus, membawakan lagu-lagu milik band punk legendaris Ramones.
Pada awalnya, perbedaan selera musik antaranggota membuat proses menciptakan lagu sendiri berjalan cukup lambat. Namun, dorongan dari teman-teman serta komunitas musik independen membuat mereka mulai percaya diri menulis karya orisinal.
Perjalanan tersebut melahirkan EP Suburban Terror pada 2021, yang kemudian disusul album Rangsang. Melalui karakter musik rock-punk dengan distorsi yang kuat dan lirik yang lugas, The Kick mengangkat cerita keseharian anak muda Kotagede, mulai dari kisah romansa, kegelisahan, hingga kehidupan di gang-gang kampung, pasar tradisional, dan tempat tongkrongan.
Bagi The Kick, musik menjadi medium untuk menghadirkan narasi baru tentang Kotagede. Selama ini kawasan tersebut identik dengan bangunan bersejarah, wisata ziarah, dan kerajinan perak. Mereka ingin menunjukkan bahwa budaya pop juga dapat tumbuh berdampingan dengan tradisi tanpa menghilangkan nilai sejarah yang telah melekat selama bertahun-tahun.
Perjalanan band ini juga tidak selalu berjalan mulus. Di tengah keterbatasan ekonomi, para personel sempat mempertimbangkan untuk menghentikan aktivitas bermusik karena pendapatan dari musik belum mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Namun, kesempatan tampil di Pestapora 2024 serta kolaborasi bersama The Jeblogs dalam Synchronize Fest 2024 menjadi titik balik perjalanan The Kick. Penampilan tersebut memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi mereka di skena musik independen Indonesia.
Baca juga: Hari Anak Nasional 2026, Pemkot Yogyakarta Perkuat Komitmen Wujudkan Kota Ramah Anak
Interaksi kreatif dengan musisi dan seniman visual Farid Stevy juga memberi pengaruh besar terhadap perkembangan The Kick. Mereka didorong untuk membangun jaringan, mengenal media, hingga menyiapkan press release sebagai bagian dari strategi memperkenalkan karya secara profesional.
Ke depan, The Kick berharap Kotagede tidak hanya dikenal sebagai kawasan wisata sejarah dan sentra kerajinan perak. Mereka ingin kawasan tersebut juga menjadi ruang hidup bagi generasi muda melalui perkembangan musik, seni, ruang publik, serta kolaborasi lintas komunitas yang mampu menjaga tradisi tanpa menghambat lahirnya kreativitas baru.