Tasikmalaya – Di tengah laju teknologi digital yang semakin kompleks, upaya membangun aplikasi yang sukses sering kali terjebak pada kecanggihan teknis semata. Padahal, prinsip dasar pengalaman pengguna justru bisa dipelajari dari hal yang sangat sederhana, bahkan dari permainan tradisional. Salah satunya adalah congklak.
Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, Bambang Kelana Simpony, menilai bahwa banyak aplikasi modern gagal bukan karena teknologinya yang tertinggal, melainkan karena logika penggunaannya terlalu rumit dan tidak intuitif. Menurutnya, congklak menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana manusia memahami aturan, membuat keputusan, dan menikmati proses.
“Banyak aplikasi modern gagal bukan karena teknologinya kurang canggih, melainkan karena logikanya terlalu rumit dan tidak intuitif. Congklak adalah contoh permainan dengan aturan sederhana, tetapi mampu membuat pemain betah berlama-lama,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Senin (9/3).
Bambang menjelaskan, ada sejumlah prinsip dalam congklak yang relevan dengan pengembangan aplikasi digital masa kini, khususnya dalam hal desain alur dan pengalaman pengguna (User eXperience/UX).
*Logika Alur yang Sederhana dan Mudah Diprediksi*
Dalam congklak, pemain memahami dengan cepat apa yang akan terjadi ketika mengambil biji dari satu lubang dan menyebarkannya ke lubang berikutnya. Alurnya jelas dan dapat diperkirakan. Prinsip ini, menurut Bambang, seharusnya juga diterapkan dalam aplikasi.
“Pengguna aplikasi perlu memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Ketika menekan tombol tertentu, hasil yang muncul harus sesuai dengan ekspektasi. Alur yang membingungkan hanya akan membuat pengguna kehilangan minat,” jelasnya.
*Manajemen Sumber Daya yang Transparan*
Congklak juga mengajarkan pentingnya visibilitas. Jumlah biji di setiap lubang dan di rumah pemain terlihat jelas, sehingga pemain selalu mengetahui kondisi permainan. Transparansi ini menciptakan rasa kontrol.
Dalam aplikasi digital, konsep serupa berlaku pada informasi seperti jumlah poin, status proses, atau isi keranjang belanja. Ketika informasi tersebut tidak ditampilkan dengan jelas, pengguna cenderung merasa cemas dan ragu untuk melanjutkan interaksi.
“Setiap langkah dalam permainan congklak memberikan umpan balik instan, baik secara visual maupun suara. Biji yang berpindah dan bertambah memberi kepuasan tersendiri bagi pemain,” kata Bambang.
Hal ini, kata Bambang, sejalan dengan kebutuhan pengguna aplikasi akan respons yang cepat dan jelas. Perubahan warna tombol, notifikasi sukses, atau tanda centang sederhana dapat memberikan rasa kendali dan kepuasan yang signifikan.
Pendekatan ini juga mulai diterapkan dalam proses pembelajaran di UBSI kampus Tasikmalaya yang terkenal sebagai Kampus Digital Kreatif. Mahasiswa tidak hanya diajarkan menulis kode yang berfungsi, tetapi juga diajak memahami bagaimana pengguna berinteraksi dan merasakan aplikasi yang mereka buat.
Melalui analogi congklak, konsep-konsep kompleks seperti UX dan desain alur menjadi lebih mudah dipahami. Cara ini mendorong calon developer untuk berpikir sebagai perancang pengalaman, bukan sekadar pembuat sistem. “Pada akhirnya, aplikasi yang hebat bukan hanya yang canggih secara teknis, tetapi juga yang sederhana, intuitif, dan menyenangkan digunakan seperti halnya permainan congklak yang telah bertahan lintas generasi,” tutupnya.





