EntrepreneurLifestylePendidikan

Skripsi, Antara Bimbingan Dosen dan Bimbingan Mental

×

Skripsi, Antara Bimbingan Dosen dan Bimbingan Mental

Sebarkan artikel ini

Bekasi – Kalau hidup mahasiswa dibagi dalam bab, maka skripsi itu jelas bab paling dramatis. Ada darah, ada air mata, ada kopi sachet yang diminum jam tiga pagi, dan tentu saja ada doa-doa lirih agar revisi dosen nggak lagi muncul dengan komentar legendaris “ini ulangi dari Bab I ya.”

Di atas kertas, skripsi cuma soal nyusun kalimat akademis, nyari teori, terus masukin data. Tapi di dunia nyata, skripsi adalah duel mental. Pertanyaannya bukan lagi “kapan selesai?” tapi “aku masih kuat nggak ya?”

Tekanan datang dari segala arah. Dari rumah, ada suara emak yang rutin nanya, “Nak, kapan wisuda? Biar tetangga nggak nanya-nanya lagi.” Dari teman, ada yang sudah foto toga sambil caption, “Finally, I made it.” Sementara kamu? Masih stuck di Bab III, debat sama SPSS yang ngeyel nggak mau kasih signifikansi.

Nggak heran kalau banyak mahasiswa level akhir jadi penghuni tetap circle overthinking. Bukan karena mereka malas, tapi karena mentalnya digerus rasa takut tertinggal. Rasanya kayak maraton, tapi orang lain sudah finish line, kamu masih di posko minum.

Di tengah drama ini, muncul solidaritas sunyi. Di kampus, termasuk di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cibitung, mahasiswa sering bikin kelompok belajar dadakan. Ada yang nyebut tim Bab II, ada juga squad revisi minggu ini. Hebatnya, satu kalimat sederhana dari teman, “Ayo kita kerjain bareng,” kadang lebih manjur daripada teori manajemen waktu yang kita baca di Google.

Dosen pun mulai sadar. Bimbingan sekarang bukan cuma soal tanda tangan lembar konsultasi, tapi juga jadi sesi curhat terselubung. Ada dosen yang bilang, “Santai, kamu bisa kok. Yang penting jangan berhenti nulis.” Kalimat sederhana, tapi efeknya bisa bikin mahasiswa pulang bimbingan dengan langkah lebih ringan, meski tetap panik mikirin revisi.

Data malah bikin situasi ini makin masuk akal. Survei Kompas (2024) nunjukin, 6 dari 10 mahasiswa tingkat akhir ngalamin stres berat saat ngerjain skripsi. Artinya, kalau kamu lagi begadang sambil nangis di depan laptop, tenang, kamu nggak sendirian. Itu statistiknya memang begitu.
Solusi? Beberapa kampus mulai coba pendekatan holistik. Nggak cuma bimbingan akademik, tapi juga bimbingan mental, salah satunya yang dilakukan oleh UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif. Ada seminar motivasi, workshop manajemen stres, bahkan ruang konseling buat mahasiswa. Karena skripsi itu bukan cuma produk ilmiah, tapi juga proses mendewasakan diri.

Kepala Kampus UBSI kampus Cibitung, Nicodias Palasara bilang, “Buat kamu yang lagi di fase ini, percayalah nggak apa-apa jalannya lambat, yang penting tetap maju. Jangan lupa, kesehatan mentalmu jauh lebih penting daripada deadline.”

Dan siapa tahu, justru di balik tangisan tengah malam dan revisi yang nggak kelar-kelar, kamu belajar hal paling berharga, bahwa hidup sama seperti skripsi bukan soal siapa paling cepat selesai, tapi siapa yang tetap kuat untuk menyelesaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *