Info Kampus

Reaktualisasi Busana Jawa Gaya Yogyakarta bagi Generasi Muda Sendangsari: Upaya Memperkuat Kepariwisataan Lokal

×

Reaktualisasi Busana Jawa Gaya Yogyakarta bagi Generasi Muda Sendangsari: Upaya Memperkuat Kepariwisataan Lokal

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, 3 Oktober 2025. Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Kampus Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Berbusana Jawa Khas Yogyakarta untuk Generasi Muda bertempat di Pendopo Kalurahan Sendangsari, Pajangan, Bantul. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB ini mengusung tema “Reaktualisasi Busana Jawa Gaya Yogyakarta Bagi Generasi Muda Sendangsari Bantul Untuk Menopang Kepariwisataan D.I. Yogyakarta”.

Sebanyak 36 peserta mewakili Karang Taruna setiap dusun di Kalurahan Sendangsari hadir, terdiri atas satu pria dan satu wanita per dusun. Pelatihan ini menghadirkan narasumber Bapak R. Jatinurcahyo, ST, MM, dan dipandu oleh moderator Bapak Atun Yulianto, SE, MM. Turut serta dalam tim penyelenggara adalah Bapak Erlangga Brahmanto, SE, MM serta Bapak Yulianto, SE, MM, dibantu dua mahasiswa dari program studi Pariwisata Universitas BSI Yogyakarta.

Acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Bapak Karman, A.Md, yang menyampaikan apresiasi terhadap langkah penguatan budaya lokal dalam konteks pembangunan pariwisata. Menurut beliau, Kalurahan Sendangsari memiliki potensi sebagai desa budaya yang strategis, terutama bila generasi muda aktif menggunakan dan melestarikan identitas busana tradisional Jawa khas Yogyakarta.

Pelatihan berbusana ini bertujuan mendorong generasi muda agar lebih mengenal, menghargai, dan mampu mempraktikkan busana Jawa khas Yogyakarta dalam aktivitas sehari-hari maupun saat berinteraksi dengan wisatawan. Dengan demikian, kehadiran busana tradisional di ruang publik akan menjadi salah satu daya tarik tambahan dalam paket wisata budaya lokal.

Dalam sesi materi, Bapak R. Jatinurcahyo menyampaikan prinsip-prinsip dasar busana Jawa Yogyakarta beserta filosofinya mulai dari pemilihan bahan, motif, potongan, hingga etika pemakaiannya dalam konstelasi budaya kontemporer. Ia menekankan bahwa reaktualisasi bukan sekadar meniru masa lalu, melainkan mengolah elemen tradisi agar relevan dengan selera dan situasi masa kini dengan tetap mempertahankan originalitasnya.

Para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak praktik mengenakan berbagai jenis busana Jawa seperti surjan, blangkon, beskap, cenela dan jarik dengan bimbingan langsung dari narasumber dan tim. Mereka belajar cara mengombinasikan aksesori tradisional agar tetap elegan dan sesuai dengan pakemnya.

Dalam sesi diskusi, Fendy Pradana menyatakan, “Pelatihan ini membuka wawasan saya bahwa busana Jawa tak hanya untuk acara formal, tetapi bisa kita adaptasi agar tetap menarik di kehidupan sehari-hari.” Sementara Lidya mengungkapkan, “Saya merasa lebih percaya diri memakai kebaya sehari-hari, apalagi jika momen budaya seperti kirab atau festival lokal nantinya.”

Acara berjalan dengan lancar, suasananya hangat dan penuh antusiasme. Beberapa peserta tergoda untuk menjadikan kenakan busana Jawa sebagai kebiasaan baru, bukan sekadar formalitas. Tim panitia dari BSI dan mahasiswa turut memfasilitasi sesi foto, dokumentasi, dan diskusi kelompok agar materi lebih melekat.

Kegiatan ini sejalan dengan upaya lokal di Sendangsari yang selama ini telah dikenal sebagai kawasan dengan semangat pelestarian budaya. Misalnya, Sendangsari sudah dikenal sebagai Desa Budaya, serta memiliki aset wisata Desa Wisata Mangir dan petilasan Ki Ageng Mangir.

Dengan memperkuat jiwa budaya lewat busana lokal, generasi muda Sendangsari diharapkan mampu menjadi “duta budaya” dalam mendukung kepariwisataan DIY. Inisiatif ini juga menegaskan bahwa pelestarian warisan tidak terbatas pada bangunan atau pertunjukan seni, tetapi juga mencakup ekspresi personal seperti bagaimana orang berpakaian sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *