Purworejo, 18 September 2024 – Universitas BSI Kampus Yogyakarta menggelar rapat koordinasi dengan Desa Cengkawakrejo, Banyurip, Purworejo, Jawa Tengah. Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun strategi pendampingan Desa Tematik guna meningkatkan potensi dan pengelolaan sumber daya desa. Acara berlangsung di Kantor Kepala Desa Cengkawakrejo, dari pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Dalam rapat tersebut, Universitas BSI diwakili oleh sejumlah pimpinan dan dosen, termasuk Vadlya Ma’arif, M.Kom, Kepala Kampus Universitas BSI Yogyakarta, yang memimpin jalannya rapat. Turut hadir pula Emmita Devi Hari Putri, S.Par, MM, Ketua Program Studi Perhotelan; Noor Hasan, M.Kom, Ketua Program Studi Sistem Informasi; Indriyanti, M.Kom, Staff LPPM BSI; Erlangga Brahmanto, SE, MM, dari bagian kerjasama (BCC); serta Atun Yulianto, SE, MM, perwakilan Dosen Universitas BSI kampus Yogyakarta.
Dari pihak Desa Cengkawakrejo, rapat dihadiri oleh bapak Mardiyanto selaku Kaur Perencanaan, dan bapak Teguh Ruswanto, perwakilan Kepala Dusun dari Sutomenggalan. Kedua pihak berdiskusi mengenai permasalahan dan potensi yang dimiliki desa serta langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi.
Desa Cengkawakrejo memiliki potensi alam yang besar, salah satunya adalah embung yang dibangun dengan bantuan dari Kementerian Pertanian. Embung ini berfungsi sebagai penampung air hujan, namun belum dikelola secara optimal. Selain itu, Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang seharusnya mengelola potensi wisata desa saat ini sedang mengalami kevakuman, sehingga pengembangan wisata desa tersendat.
Website desa yang sebelumnya berfungsi sebagai sarana informasi dan promosi juga sudah tidak dapat diakses karena habisnya masa sewa hosting. Ini menjadi salah satu prioritas utama yang disorot dalam rapat untuk segera diperbaiki, mengingat website memiliki peran penting dalam memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat luas.
Selain itu, desa ini memiliki cita-cita untuk mengembangkan sektor wisata yang berbasis pertanian holtikultura, dengan integrasi antara embung, pertanian, peternakan, perikanan, dan kuliner lokal. Potensi ini dinilai sangat strategis jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Sementara itu, BUMDes Cengkawakrejo sudah berdiri, namun baru memiliki dua jenis usaha, yaitu persewaan kios dan bank sampah.
Dalam rapat tersebut, disepakati beberapa langkah konkrit yang akan dilakukan sebagai bentuk pendampingan dari Universitas BSI Kampus Yogyakarta. Di antaranya adalah pelatihan pembangunan dan pengelolaan website desa, pelatihan videografi untuk promosi wisata, serta pelatihan Internet of Things (IoT) untuk mendukung inovasi berbasis teknologi.
“Dengan adanya pelatihan ini, kami berharap masyarakat desa bisa lebih mandiri dalam mengelola potensi yang ada dan mampu memperkenalkan desanya secara lebih luas melalui teknologi digital,” ujar Vadlya Ma’arif, M.Kom, selaku pimpinan rapat.
Pelatihan-pelatihan tersebut akan dilaksanakan pada hari Sabtu, namun tanggal pelaksanaannya masih menunggu kesepakatan lebih lanjut antara kedua pihak. Rencana ini diharapkan dapat mendorong Desa Cengkawakrejo untuk berkembang menjadi desa mandiri yang mampu memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan potensi lokal.
Universitas BSI Yogyakarta berkomitmen untuk terus mendampingi Desa Cengkawakrejo dalam mengembangkan potensi desa, baik dari sektor pariwisata maupun ekonomi kreatif. Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan. Vadlya Ma’arif menekankan bahwa kerjasama ini tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi akan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat desa.
Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan Desa Cengkawakrejo bisa menjadi model bagi desa-desa lain dalam mengembangkan potensi lokal melalui pendampingan dari lembaga pendidikan tinggi seperti Universitas Bina Sarana Informatika Kampus Yogyakarta.





