Jakarta – Di sebuah ruangan penuh mahasiswa dan siswa SMA sederajat yang masih nyari arah dan kadang lebih sering tanya ke zodiak daripada ke dosen pembimbing, Joddy Caprinata—founder dan CEO Postinc Media—datang bukan sebagai motivator berseragam formal dengan template “kamu harus sukses sekarang juga!” Tapi sebagai manusia biasa yang ngerti rasanya bingung, lelah, dan merasa hidup kayak lagi dikasih soal esai tanpa kisi-kisi.
Sebagai narasumber pertama di acara Postinc Goes to Campus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kalimalang pada Senin (16/6), Joddy langsung menembak satu keresahan klasik generasi kita, yaitu Quarter Life Crisis. Itu loh, momen absurd di mana kamu bangun tidur dan tiba-tiba bertanya, “Aku ini siapa sih?” Bukan karena mendalami filsafat, tapi karena hidup memang kadang suka nggak kasih clue.
“Quarter life crisis itu normal banget,” kata Joddy, dengan nada yang bukan sok menenangkan, tapi sungguh bikin kita pengin pelan-pelan menerima bahwa kebingungan itu bagian dari tumbuh.
Lalu gimana cara cari kekuatan diri? Menurut Joddy, jangan buru-buru lirik pencapaian orang lain dulu. Coba tanya ke diri sendiri: apa sih yang kamu senangi, yang bikin kamu lupa waktu, tapi dalam konteks positif? Dari sana biasanya muncul jejak-jejak kecil yang nunjukin potensi kita.
Tapi jangan salah, potensi itu juga kadang tersembunyi di balik masalah. “Kadang yang paling menguatkan kita justru datang dari rintangan yang bikin pengin nyerah,” ujarnya. Makanya, hidup tuh bukan soal jadi tercepat, tapi soal jadi yang paling tahan—dalam balapan sama diri sendiri.
Joddy juga ngajarin tentang pentingnya mindfulness. Bukan dalam bentuk rumus ribet atau meditasi dua jam di gunung, tapi sesimpel: tarik napas tiga kali sebelum ngerespon sesuatu, jalan kaki sambil beneran sadar bahwa kamu lagi jalan, atau set alarm dua kali sehari buat inget “eh, aku masih hidup loh hari ini”. Karena seringnya kita lupa bernapas secara sadar, tapi sibuk ngejar semua hal yang belum tentu kita butuhin.
Dan yang bikin suasana makin hening tapi hangat, ketika Joddy nyeletuk: “Makna hidup itu bukan dari apa yang kita miliki, tapi dari apa yang kita berikan.”
Kalimat itu nggak panjang. Tapi dalam. Karena di tengah dunia yang gemar mengukur segala sesuatu dengan angka, like, dan pencapaian, kita lupa: hidup yang bermakna itu bukan soal piala. Tapi soal apakah kita bisa bikin hidup orang lain jadi sedikit lebih ringan.
Sesi itu akhirnya jadi semacam cermin buat banyak peserta di acara Postinc X UBSI yang mungkin awalnya datang cuma buat cari inspirasi karir, tapi pulang dengan satu kesadaran baru, bahwa berjalan dengan sadar, napas yang tenang, dan hati yang penuh, jauh lebih penting daripada sekadar berlari tanpa arah.





