Beasiswa

Mengenal Cara Kerja AI yang Bikin Manusia Takut Tergantikan

×

Mengenal Cara Kerja AI yang Bikin Manusia Takut Tergantikan

Sebarkan artikel ini

Pembahasan mengenai Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang semakin kompleks seringkali disertai dengan pertanyaan apakah teknologi ini menimbulkan ancaman bagi umat manusia? Kecanggihan AI sering kali menghadirkan ilusi menakutkan bahwa suatu hari nanti AI akan sepenuhnya menggantikan manusia.

Hilman Pardede, Peneliti di Pusat Penelitian Kecerdasan Buatan dan Keamanan Siber Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa semua ahli sepakat bahwa AI adalah sistem yang mampu menampilkan tingkat kecerdasan tertentu.

Selain itu, tingkat kecerdasan ini dipahami sebagai kemampuan untuk melakukan aktivitas yang biasa dilakukan manusia dan memerlukan kecerdasan manusia.

“Sebenarnya pendekatan terhadap AI ada banyak, karena AI mempunyai sejarah yang panjang sejak tahun 1950-an. Namun sederhananya, kita bisa membaginya menjadi dua, yaitu strong AI dan weak AI,” ujar Hilman berbicara saat live streaming Eureka! ‘Bersekutu dengan AI’, Mei lalu.

Strong AI

Menurut Hilman, Strong AI bisa dianggap sebagai impian para peneliti sejak lama, yakni mampu menciptakan sistem komputer yang seolah-olah memiliki kesadaran alamiah serta mampu berpikir dan bertindak wajar.

“Itulah impian para peneliti. Namun dalam sejarah perkembangannya, AI masih jauh dari mencapainya,” ujarnya.

Menurutnya, banyak hal yang belum kita pahami tentang kecerdasan manusia. Hal sederhana seperti kita bisa dengan mudah mengenali orang lain hanya dengan berbicara, misalnya kita tidak tahu caranya. Hal-hal seperti itu dilakukan secara alami oleh otak manusia yang hebat.

“Strong AI sulit untuk ditiru karena pada prinsipnya kita tidak memiliki pengetahuan yang lengkap tentang apa sebenarnya kecerdasan manusia. Oleh karena itu, meskipun Strong AI dapat dikatakan menjadi dambaan para peneliti di bidang AI, namun pada akhirnya perkembangan AI cenderung ke arah yang weak AI,” jelasnya.

Weak AI

Hilman menjelaskan bahwa pada prinsipnya, para ahli melihat weak AI atau kelemahan AI karena kita mungkin tidak dapat mengembangkan sistem yang identik dengan manusia, namun kita dapat mengembangkan sistem yang dapat melakukan setidaknya satu tugas yang dilakukan oleh manusia.

“Jadi kami merancang sistem AI yang dapat melakukan satu tugas saja,” katanya.

“Misalnya, sistem yang mampu mengenali wajah, sistem yang mampu membuat chatbot yang berbicara bahasa alami. Ini adalah sesuatu yang sedang banyak dilakukan saat ini. Oleh karena itu, kami beralih ke weak AI, customized specialized untuk menyelesaikan tugas tertentu,” dia menjelaskan.

Cara Kerja AI

Hilman mengatakan ada banyak cara dan pendekatan untuk mempersonalisasi sistem AI. Namun sistem yang didasarkan pada sistem berbasis deep learning (pembelajaran mendalam) dan machine learning (pembelajaran mesin) adalah yang paling populer dan efektif.

“Deep learning sebenarnya merupakan variasi dari pembelajaran mesin yang prinsipnya adalah bagaimana kita melakukan suatu tugas berdasarkan pengalaman observasi kita,” kata Hilman.

Ia memberikan contoh, mengembangkan sistem AI yang mampu mengenali suatu objek dengan mengumpulkan sebanyak mungkin gambar objek tersebut dan menyajikannya ke sistem tentang objek yang dilihatnya.

“Misalnya kita mengumpulkan banyak gambar papan, komputer, papan tulis, lalu kita beri anotasi pada gambar papan tersebut, dan sebagainya. Kemudian antara data kita dan label yang kita anotasi, kita modelkan menggunakan algoritma deep learning, lalu kemudian kita melatih AI untuk mengenali objek tersebut,” jelasnya.

Menurutnya pendekatan ini terbukti sangat efektif sehingga populer saat ini dalam pengembangan AI. AI yang berbasis deep learning akan mempelajari sejumlah besar data yang dapat dimodelkannya, hingga pada akhirnya AI bisa tahu data tersebut tentang apa.

“Meskipun pembelajaran mendalam sebenarnya hanya sebagian kecil dari pendekatan AI, pembelajaran ini sangat dominan saat ini, terutama dalam hal pengembangan sistem berdasarkan gambar, teks, bahasa, dan lainnya,” kata Hilman.

“Secara umum yang pertama kita perlu punya data, dan AI belajar dari data itu berdasarkan observasi, lalu berkembang, mencari pola untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan atau referensi,” jelas Hilman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *