Jakarta – Di tengah lautan konten yang tiap hari muncul lebih cepat dari mie rebus matang, David Rizal selaku Influencer & Digital Creator—narasumber kedua di acara Postinc Goes to Campus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kalimalang pada Senin (16/6), datang bawa pesan yang sederhana tapi nancep, yaitu konten itu bukan cuma soal FYP.
Kalimat pembuka ini langsung bikin banyak peserta yang tadinya duduk santai sambil nyender ke kursi, mulai ngerasa kayak ditampar pelan. Bukan karena salah suka ngejar FYP (For Your Page), tapi karena sering kali kita lupa, bahwa esensi konten itu ya isi, bukan cuma impresi.
David, yang udah malang-melintang di dunia kreatif digital, ngajak para mahasiswa UBSI buat berhenti bikin konten yang “asal tayang” dan mulai bikin konten yang “pantas dikenang”. Menurutnya, kalau mau mulai bikin konten yang oke, ada beberapa resep rahasia yang perlu kamu kantongi dulu.
Pertama, berisi, unik, dan original. Jangan cuma ikut tren, tapi coba gali dari pengalaman atau sudut pandangmu sendiri. “Ide itu kayak nasi. Semua orang punya. Tapi cara kamu masaknya yang bikin beda.”
Kedua, tulis materinya dulu. Konten yang bagus itu bukan hasil iseng dadakan. Ada riset, ada naskah, bahkan ada struktur. Biar pas rekam nggak asal nyerocos kayak buka podcast dadakan tanpa intro.
Ketiga, perhatikan estetika dan teknik. Ini nih yang sering disepelekan. David nyeletuk, “Percuma device kamu iPhone 15 Pro Max kalau ngambil gambar tetap blur, komposisinya kejedot kipas, dan pencahayaannya lebih gelap dari masa depan mantan.” Tawa pun pecah. Tapi jleb juga.
Keempat, bebaskan diri buat improvisasi. Namanya juga kreatif, ya harus fleksibel. Kadang script bagus pun bisa kalah sama momen spontan yang jujur. Tapi, ya tetap pakai rasa. Improvisasi bukan berarti ngawur.
Yang paling penting, sebelum kamu upload dan berharap ditonton jutaan orang, pastikan kamu sendiri puas dan bangga sama apa yang kamu bikin. Karena, kata David, “Konten itu bukan cuma buat ditonton orang, tapi juga cermin diri kita—apa yang kita pikirkan, rasakan, dan perjuangkan.”
Pesannya sederhana tapi relevan, yaitu bikin konten yang bernyawa, bukan cuma bersuara. Karena di era digital ini, semua orang bisa jadi kreator. Tapi nggak semua orang memilih jadi yang bertanggung jawab atas apa yang mereka bagikan.





