Teknologi

Kemampuan yang Dibutuhkan di Era Gempuran Chat GPT

×

Kemampuan yang Dibutuhkan di Era Gempuran Chat GPT

Sebarkan artikel ini

SIAPA yang tidak tahu ChatGPT? Chat Generative Pre-trained Transformer (ChatGPT) menjadi aplikasi artificial intelligence (AI) yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya pada 2023 (Annur, 2023). ChatGPT  dikembangkan oleh OpenAI, perusahaan riset kecerdasan buatan yang berbasis di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada tahun 2020 dan diperkenalkan secara resmi  kepada publik pada tahun 2021. Sebenarnya banyak aplikasi AI selain ChatGPT, misalnya: Perplexity, Bing, Copy.ai, dan lain-lain. ChatGPT bukan AI pertama yang dikembangkan. Namun ChatGPT menjadi nomor satu dalam pemilihan aplikasi oleh masyarakat Indonesia. Mungkin karena ChatGPT paling banyak dibicarakan dalam media sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, ChatGPT telah menunjukkan kontribusinya sebagai teknologi yang dapat membantu memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkembangan terbaru, ChatGPT mampu memahami dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dengan cukup baik, sehingga pengguna seolah-olah berinteraksi dengan sesama manusia. Selain itu, aplikasi ini juga mampu menggali informasi secara luas dari berbagai sumber di internet sehingga dapat memberikan informasi dari berbagai bidang. Namun demikian, kehadiran ChatGPT tidak terlepas dari kontroversi. Walaupun membawa manfaat, namun banyak kalangan tidak terkecuali dari dunia pendidikan, mengkhawatirkan kehadiran ChatGPT. Dengan perkembangan ChatGPT yang semakin canggih, timbul kekhawatiran tumbuhnya ketergantungan yang dirasakan oleh siswa terhadap AI. Ketergantungan ini juga dikhawatirkan dapat melemahkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

Untuk menghasilkan kata-kata atau kalimat dengan jumlah tertentu secara cepat, aplikasi ChatGPT dapat dengan mudah melakukannya. Demikian pula jika diminta lebih lanjut untuk menghasilkan konsep, maka ChatGPT dapat memberikan kata-kata atau kalimat variatif, unik, dan terelaborasi dengan baik. Dengan demikian, terkesan tidak ada lagi keistimewaan kreativitas verbal manusia dibandingkan dengan aplikasi AI. Lalu, masihkah kreativitas verbal manusia ada peluang untuk dianggap istimewa dan tetap dibutuhkan di era AI?

Secara umum, kreativitas manusia masih tetap dianggap istimewa. Bahkan saat kita bertanya kepada ChatGPT (OpenAI, 2023); dari tujuh jawaban yang diberikan oleh ChatGPT atas pertanyaan “Apa keistimewaan manusia dibandingkan AI?”, ChatGPT masih menyatakan bahwa kreativitas yang dimiliki oleh manusia berada pada urutan pertama yang menjadi kelebihan manusia dibandingkan ChatGPT. Ketika ditanyakan kepada ChatGPT, “Apakah kreativitas verbal manusia masih lebih istimewa dibandingkan AI?” Jawaban dari ChatGPT adalah “Kreativitas verbal manusia masih dianggap lebih istimewa dibandingkan dengan kreativitas yang dapat dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) saat ini” (OpenAI, 2023).

Saat membaca jawaban ChatGPT, mungkin kita sebagai manusia merasa bangga, senang, antusias, dll. Namun, jawaban yang disampaikan oleh ChatGPT bahwa manusia bersifat kontekstual, menggunakan pengetahuan, budaya/sejarah, pengalaman pribadi secara mendalam, dan relevan, sebenarnya juga ada pada jawaban-jawaban ChatGPT. Lalu, apakah kita percaya bahwa kreativitas verbal manusia lebih istimewa dibandingkan AI? Sebagai manusia kita tidak boleh menyerahkan sepenuhnya tugas dan tanggung jawab kepada AI. Dalam situasi tertentu, khususnya situasi yang membutuhkan tanggung jawab publik dan bersifat spontan, kita tidak dapat menjadikan ChatGPT sebagai andalan. Kita akan dinilai oleh publik berdasarkan kemampuan, kelancaran, keragaman, keunikan, dan kedalaman (kejelasan) kita dalam menyampaikan ide, konsep, atau jawaban. Kreativitas verbal tetap dibutuhkan sebagai dasar dari performa akademik. Berdasarkan hasil penelitian Kartana et al. (2018), kreativitas verbal memprediksi prestasi akademik mahasiswa. Semakin tinggi kreativitas verbal mahasiswa, semakin tinggi prestasi akademik yang dimilikinya. Saat membutuhkan ide, manusia dapat meminta bantuan AI untuk menghasilkan ide. Ide yang dihasilkan/diinspirasikan oleh AI, dapat diparafrasa sehingga sesuai atau relevan dengan konteks yang dibutuhkan oleh manusia. Melalui sentuhan manusia, ide yang dihasilkan oleh AI dapat dimodifikasi, diberikan muatan emosi, sehingga dapat tersampaikan dengan lebih baik dan lebih hidup. Dengan adanya AI, manusia seharusnya lebih bersemangat atau termotivasi untuk menghasilkan ide agar tujuan baiknya dapat lebih mudah tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *