Info KampusInfo Loker

IPK Boleh Tinggi, Tapi Sertifikasi Itu yang Bikin HRD Nengok

×

IPK Boleh Tinggi, Tapi Sertifikasi Itu yang Bikin HRD Nengok

Sebarkan artikel ini

Bekasi – Pernah nggak sih, kamu ketemu teman lama yang pamer, “IPK gue 3.9, bro!” Tapi pas nyari kerja, HRD cuma senyum ramah lalu bilang, “Nanti kami kabari, ya.” Dan kabar itu nggak pernah datang sampai sekarang.

Begitulah realita dunia kerja zaman now, di mana IPK memang penting, tapi bukan jaminan. Yang lebih dicari perusahaan adalah bukti konkret kalau kamu bisa kerja. Nggak sekadar hafal teori manajemen atau ngerti coding di atas kertas, tapi benar-benar bisa ngulik sistem, bikin program jalan, atau bahkan ngitung pajak tanpa bikin klien migrain.

Di sinilah sertifikasi kompetensi muncul sebagai jimat modern para pejuang karir. Sertifikat ini bukan kayak piagam lomba 17-an yang cuma dipajang di ruang tamu, tapi pengakuan resmi dari lembaga berlisensi macam Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Artinya, negara sendiri yang bilang “Oke, anak ini memang kompeten.”

Buat mahasiswa, punya sertifikasi sejak kuliah ibarat punya senjata rahasia. CV jadi lebih seksi, confidence naik, dan yang paling penting bahwa HRD jadi lebih penasaran. Bayangin, dua orang sama-sama lamar kerja. Satunya cuma bawa ijazah, satunya bawa ijazah plus sertifikasi Analis Programmer. Tebak siapa yang lebih dilirik?

Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif nangkep betul soal ini. Mereka sadar kuliah nggak bisa cuma berakhir dengan toga dan foto wisuda. Makanya, mereka bikin Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) BSI yang udah resmi terlisensi BNSP. Jadi mahasiswa bisa dapet sertifikasi langsung dari kampus, tanpa harus keluar biaya dan waktu ekstra ke tempat lain. Praktis, kan?

Apalagi UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif juga punya Tempat Uji Kompetensi (TUK) di berbagai kampus. Jadi nggak ada alasan buat mahasiswa ngeles, “Ujian sertifikasi jauh, Pak.” Nggak ada. Ujian bisa di kampus sendiri, sambil nunggu jam kuliah berikutnya.

Muhamad Tabrani, Kepala Kampus UBSI kampus Kaliabang, bilang dengan nada santai tapi serius, “Kami ingin mahasiswa keluar dari UBSI bukan hanya bawa ijazah, tapi juga bawa bukti konkret bahwa mereka kompeten. Sertifikasi ini adalah cara untuk menunjukkan ke dunia kerja bahwa mereka ‘Saya siap dipakai, bukan cuma siap belajar lagi’.”

Dengan kombinasi teori di kelas, praktik langsung di lab, plus pengakuan resmi lewat sertifikasi, lulusan UBSI dibikin siap tempur di dunia kerja. Bukan sekadar sarjana, tapi sarjana yang kalau masuk perusahaan, nggak perlu training berbulan-bulan buat ngerti sistem.

Pada akhirnya, dunia kerja itu simpel tapi kejam: ijazah cuma tiket masuk, skill nyata yang bikin kamu bertahan. Jadi kalau masih mikir cukup dengan IPK tinggi, hati-hati, HRD sekarang lebih percaya sama sertifikasi yang bisa ngomong “Anak ini beneran bisa kerja, bukan cuma bisa presentasi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *