Pontianak — Di era pesatnya perkembangan teknologi digital, para pendidik dihadapkan pada tantangan baru: beradaptasi dengan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan. Menyikapi kebutuhan ini, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menggelar program Artificial Intelligence Goes to School (AIGTS) secara daring pada Jumat (19/7) silam melalui Zoom. Ratusan guru dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Yoki Firmansyah, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak, didapuk sebagai narasumber utama dalam pelatihan tersebut. Ia membawakan materi berjudul “Pemanfaatan Kecerdasan Buatan untuk Mendukung Kinerja Guru dalam Administrasi dan Pembelajaran di Kelas.”
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkenalkan teknologi AI kepada para guru, terutama dalam penggunaannya untuk menunjang pembelajaran dan manajemen kelas. Mulai dari konsep dasar AI, penerapannya dalam dunia pendidikan, hingga praktik menggunakan platform berbasis AI disampaikan secara sistematis dan aplikatif oleh narasumber.
Dalam pemaparannya, Yoki menekankan bahwa kecerdasan buatan bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk meningkatkan profesionalisme pendidik.
“Kecerdasan buatan tidak akan menggantikan peran guru. Justru, AI bisa menjadi mitra cerdas yang membantu meringankan tugas-tugas administratif, memperkaya materi ajar, serta memungkinkan pembelajaran yang lebih personal dan adaptif bagi siswa,” ungkap Yoki dalam rilis yang diterima, Senin (28/7).
Ia juga menjelaskan contoh penerapan konkret, seperti menyusun soal otomatis berdasarkan tingkat kesulitan, menganalisis hasil belajar siswa, hingga menciptakan bahan ajar visual yang menarik dan evaluasi yang efisien. Menurutnya, kemampuan ini akan membantu guru dalam mengelola waktu secara lebih baik sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Lebih lanjut, Yoki mendorong para guru untuk terbuka terhadap perubahan dan terus mengembangkan literasi digital mereka.
“Menjadi guru hari ini bukan hanya tentang menguasai materi pelajaran, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkan teknologi secara bijak untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. AI adalah salah satu kunci penting untuk itu,” tegasnya.
Antusiasme peserta pun tinggi. Banyak guru menyampaikan rasa terima kasih atas materi yang disampaikan karena dianggap membuka wawasan baru dan menumbuhkan kepercayaan diri untuk mengeksplorasi teknologi AI di sekolah masing-masing. Bahkan, beberapa di antaranya mengusulkan agar pelatihan lanjutan diselenggarakan secara berkala.
Partisipasi UBSI kampus Pontianak melalui dosennya menjadi bukti nyata komitmen kampus ini dalam mencerdaskan bangsa. UBSI, sebagai Kampus Digital Kreatif, terus mendorong kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan pemerintah untuk mendukung transformasi pendidikan, khususnya di Kalimantan Barat.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tapi sebuah gerakan bersama untuk menyiapkan para guru menjadi agen perubahan di era digital. Saya bangga bisa menjadi bagian dari upaya ini,” tutup Yoki.
Partisipasi aktif UBSI kampus Pontianak dalam kegiatan AIGTS ini menegaskan peran UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif yang terus berkontribusi dalam transformasi pendidikan nasional. Dengan melibatkan dosen-dosennya dalam pelatihan strategis seperti ini, UBSI menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang siap menghadapi tantangan era kecerdasan buatan, serta memberdayakan guru sebagai garda terdepan dalam membentuk generasi digital Indonesia.AIG





