Seringkali merasa gelisah saat tidak membuka ponsel? Atau kesulitan fokus membaca satu halaman buku tanpa tersergap notifikasi? Jika iya, kondisi tersebut bisa jadi bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan tanda dari kelelahan dopamin, yakni situasi ketika otak terlalu sering menerima rangsangan instan dari dunia digital.
Fenomena ini, menurut Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, semakin banyak dialami generasi digital. Ia menegaskan bahwa istilah “dopamine detox” bukan sekadar tren di media sosial, melainkan latihan yang relevan untuk mengembalikan kemampuan fokus yang perlahan terkikis.
Istilah dopamine detox mungkin terdengar seperti tren, tetapi ini adalah respons biologis yang sangat nyata terhadap lingkungan digital yang dirancang untuk membuat kita kecanduan. Setiap notifikasi, setiap like, setiap video pendek memberikan suntikan dopamin kecil yang melatih otak kita untuk terus-menerus mencari stimulasi baru dan membuat pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi terasa sangat berat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Bambang merancang sebuah protokol sederhana yang dapat diterapkan siapa saja, khususnya mahasiswa yang tengah menghadapi tugas akhir atau persiapan ujian. Program ini ia sebut sebagai Latihan Fokus 3 Hari.
Hari 1: Hari Membersihkan (The Clean-Up Day)
Latihan dimulai dengan membersihkan lingkungan digital yang selama ini menjadi sumber distraksi. Pada tahap ini, peserta diminta menghapus atau menonaktifkan sementara aplikasi media sosial yang paling mengganggu, serta mematikan seluruh notifikasi kecuali telepon dan pesan penting. Langkah awal ini bertujuan mengurangi “kebisingan” eksternal yang kerap memicu dorongan untuk terus membuka ponsel, sekaligus menciptakan ruang digital yang lebih tenang dan terkendali.
Hari 2: Hari Mengganti Kebiasaan (The Habit-Swapping Day)
Setelah distraksi mulai berkurang, latihan berlanjut pada upaya mengubah respons terhadap kebiasaan lama. Setiap kali muncul keinginan untuk menggulir media sosial, dorongan tersebut dialihkan ke aktivitas analog, seperti membaca buku fisik selama 15 menit, duduk diam sambil menikmati minuman tanpa gangguan, atau berjalan kaki sejenak. Tahap ini melatih otak untuk kembali menikmati ketenangan dan memperlambat ritme stimulasi yang selama ini serba cepat.
Hari 3: Hari Menemukan Kembali Fokus (The Rediscovery Day)
Pada hari terakhir, latihan diarahkan pada pengalaman fokus yang lebih mendalam. Peserta diminta mengalokasikan waktu sekitar 90 menit tanpa gangguan untuk mengerjakan satu tugas penting, menulis, mengerjakan soal, atau coding dengan ponsel diletakkan di ruangan lain. Melalui tahap ini, peserta diajak merasakan kembali sensasi flow atau alur kerja yang dalam, sekaligus menyadari bahwa fokus penuh masih bisa dicapai di tengah derasnya distraksi digital.
Lebih jauh, latihan dopamine detox ini memperlihatkan bahwa fokus kini menjadi sesuatu yang bernilai dan semakin langka di tengah perhatian yang terus terpecah. Kemampuan untuk bertahan pada satu pekerjaan, tanpa tergoda stimulasi instan, menjadi pembeda penting di era digital.
Pandangan ini tumbuh dari keseharian akademik di UBSI kampus Tasikmalaya, ketika mahasiswa dihadapkan pada tuntutan belajar yang memerlukan konsentrasi dan ketekunan. Melalui latihan sederhana seperti ini, fokus tidak lagi dianggap sebagai bakat alami, melainkan keterampilan yang bisa dilatih dan dijaga untuk menunjang proses belajar maupun kesiapan menghadapi tantangan setelah lulus.





