Yogyakarta – Ada orang yang menulis puisi karena tugas sekolah, lalu setelah itu lupa. Ada juga yang menulis puisi karena patah hati, dan berhenti begitu hatinya sembuh. Tapi ada satu orang yang menulis puisi karena, ya memang itu caranya bernapas.
Namanya Galuh Abdul Razak. Lulusan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Yogyakarta ini nggak cuma pintar mengerjakan soal ujian atau bikin slide presentasi. Ia juga punya kemampuan meramu kata yang bisa bikin orang bengong, entah karena tersentuh atau karena merasa tiba-tiba diajak mikir.
Sejak awal kuliah, Galuh memang sudah kelihatan beda. Teman-temannya mungkin sibuk memikirkan skripsi atau cari tempat nongkrong murah, tapi dia malah sibuk mencari diksi yang pas buat puisinya. Temanya? Macam-macam. Dari keresahan sosial, kisah pribadi, sampai harapan-harapan yang diselipkan dalam imaji yang manis.
Lomba demi lomba diikuti. Dari tingkat kampus, antar-kampus, sampai skala nasional. Dan entah kenapa, setiap kali namanya dipanggil sebagai pemenang, yang diingat orang bukan cuma trofinya, tapi juga cara dia membaca puisi yang tenang, tapi menohok.
Sampai suatu hari, bakatnya ini menarik perhatian kampus. UBSI, yang memang punya program Beasiswa Juara untuk mahasiswa berprestasi di bidang seni, budaya, olahraga, atau prestasi non-akademik lainnya, memutuskan untuk memberikan beasiswa itu ke Galuh.
Bagi sebagian orang, beasiswa mungkin cuma angka di tagihan kuliah yang berkurang. Tapi buat Galuh, “Beasiswa ini bukan hanya soal angka atau pembebasan biaya, tapi tentang keyakinan bahwa karya saya punya arti,” ujarnya sambil tersenyum.
Sejak itu, kiprah Galuh makin lebar. Dia bikin komunitas sastra di kampus, jadi mentor buat mahasiswa baru yang mau belajar menulis, sampai bikin panggung terbuka untuk pembacaan puisi.
Setelah lulus, dia nggak meninggalkan dunia itu. Malah berkembang jadi content creator dan penulis kreatif. Media sosialnya penuh dengan puisi, tips menulis, dan obrolan santai soal seni. Kadang dia juga bikin workshop, kolaborasi dengan komunitas, atau jadi pembicara di forum-forum kreatif.
Perjalanan Galuh ini bukti kalau seni bukan sekadar hobi mahal yang berakhir di sudut kamar. Seni bisa jadi karier, jadi alat untuk memengaruhi orang, bahkan jadi cara untuk membangun masa depan.
Dan di balik semua itu, ada satu pesan penting bahwa talenta, kalau dikasih ruang dan dukungan, bisa tumbuh luar biasa. Beasiswa Juara dari UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif itu contohnya. Program ini terbuka untuk siswa-siswi berprestasi di bidang apa pun, termasuk seni dan budaya seperti musik, tari, teater, atau seni rupa. Tujuannya sederhana, yaitu memberi kesempatan pendidikan tinggi tanpa harus pusing mikirin biaya.
Jadi, kalau kamu merasa punya bakat dan kemauan, ya kenapa nggak sekalian diasah? Siapa tahu, perjalananmu bakal seperti Galuh. Dan ingat, kampus itu bukan cuma tempat menempuh SKS, tapi juga tempat melahirkan juara, dalam arti yang sesungguhnya.





