Karawang – Pernah nggak sih, ngerasa udah rajin masuk kelas, catatan tebel, stabilo warna-warni, tapi pas ujian otak kayak file komputer yang korup? Padahal, dari luar kelihatan rajin banget, datang pagi, duduk depan, nulis tiap kata dosen kayak stenografer sidang. Tapi begitu ketemu soal, mendadak blank.
Nah, masalahnya sering bukan di “belajarnya kurang,” tapi di cara kita belajar yang nggak pernah dievaluasi. Mahasiswa kadang cuma fokus pada hasil akhir yaitu nilai A, IPK cumlaude, atau minimal nggak kena SP. Jarang banget yang mau jujur nanya ke diri sendiri, “Sebenernya gue beneran paham, atau cuma hafal doang?”
Di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang, ada beberapa mahasiswa yang udah mulai sadar bahwa belajar itu nggak cukup asal hadir. Mereka bikin kebiasaan sederhana, yaitu 15–20 menit setelah kelas, buka lagi catatan, tandai yang penting, terus tulis ulang dengan bahasa sendiri. Kedengarannya receh, tapi efeknya gede banget. Begitu musim ujian datang, mereka udah punya ringkasan. Jadi bukannya sibuk ngejar dari awal, tinggal latihan soal sambil recall.
Fenomena recall ini ada istilah kerennya di psikologi pendidikan, retrieval practice. Bahasa kasarnya otak dipaksa manggil lagi informasi biar makin nempel. Kayak mantan yang sering diingat-inget. Semakin dipikirin, semakin susah dilupain. Bedanya, kalau mantan bikin move on susah, materi kuliah bikin IPK naik.
Sekarang, teknologi makin bikin belajar jadi fleksibel. Nggak perlu lagi bawa binder setebal kitab, cukup buka Notion, Evernote, atau Google Keep. Mahasiswa UBSI kampus Karawang juga banyak yang udah melek digital. Katanya, nyatet di HP lebih cepat ketimbang nulis manual. Laporan UNESCO malah bilang, efisiensi belajar bisa naik 30 persen gara-gara aplikasi digital ini. Ya lumayan, kan, daripada 30 persen dipakai buat scroll TikTok tanpa sadar udah sejam.
Tapi intinya bukan sekadar soal metode. Menilai diri butuh kejujuran. Misalnya, ada mahasiswa yang sadar kalau belajar malem pasti kalah sama godaan kasur. Solusinya? Ganti jadwal, belajar pagi sebelum kelas. Ada juga yang tahu dirinya lebih gampang paham lewat praktik ketimbang teori, ya sudah, rajinin latihan soal. Ini yang disebut psikolog sebagai growth mindset, percaya kalau kemampuan bisa ditingkatkan dengan strategi yang tepat.
Hasan Basri, Kepala Kampus UBSI kampus Karawang, juga menegaskan pentingnya refleksi ini. Katanya, “Mahasiswa yang berani menilai diri sendiri akan lebih mudah berkembang. Nilai bagus itu penting, tapi yang lebih penting adalah proses belajar yang bikin mereka paham cara berpikir, cara bekerja, dan cara memperbaiki diri. Itu bekal hidup yang nggak akan hilang meskipun sudah lulus.”
Dan percaya deh, refleksi kecil ini efeknya bukan cuma di kampus. Penelitian dari Stanford bilang, mahasiswa yang terbiasa evaluasi diri lebih gampang adaptasi di dunia kerja. Karena mereka udah terbiasa mikir, “Kerjaan gue udah oke belum? Kalau belum, apanya yang harus diperbaiki?” Itu skill hidup yang nggak ada di RPS (Rencana Pembelajaran Semester).
Mahasiswa di kampus UBSI, sebagai Kampus Digital Kreatif, yang mau repot menilai diri sendiri biasanya ngalamin perubahan signifikan. Dari yang tadinya belajar cuma biar lulus, jadi belajar biar ngerti. Dari yang awalnya hafalan mepet ujian, jadi punya catatan rapi hasil review harian. Dan dari yang awalnya gampang stres, jadi lebih tenang karena udah punya strategi.
Pada akhirnya, kualitas belajar itu bukan soal seberapa banyak catatan yang kamu punya, tapi seberapa berani kamu bercermin “Gue beneran ngerti, atau cuma pura-pura ngerti?” Karena, kalau belajar cuma buat menggugurkan kewajiban, hasilnya ya mirip kaya mahasiswa yang kuliah online tapi kameranya mati dari awal sampai akhir. Ada namanya, tapi nggak ada wujudnya.





