JAKARTA – Tren pemilihan perguruan tinggi mulai mengalami perubahan. Tidak hanya mempertimbangkan status perguruan tinggi negeri atau swasta, banyak orang tua kini lebih fokus pada kesesuaian program studi, kesiapan karier, dan keterhubungan kampus dengan dunia industri, sebagaimana disampaikan Program Studi (Prodi) Bisnis Digital Cyber University (Universitas Siber Indonesia), Selasa (2/6).
Fenomena tersebut menjadi perbincangan yang cukup ramai di media sosial dan mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan tinggi. Orang tua dinilai semakin memperhatikan kualitas pengalaman belajar serta peluang kerja yang dapat diperoleh mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
Menanggapi perkembangan tersebut, Prodi Bisnis Digital Cyber University menilai bahwa perguruan tinggi perlu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri digital. Melalui konsep Industry-Based University, Cyber University mengintegrasikan pembelajaran bisnis, teknologi, analisis data, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), digital marketing, hingga bisnis digital dalam proses perkuliahan.
Mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi teori di ruang kelas. Mereka juga terlibat dalam berbagai proyek industri, program magang profesional, serta pembelajaran berbasis studi kasus yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
Ketua Prodi Bisnis Digital Cyber University, Vivi Afifah, mengatakan bahwa transformasi digital telah mengubah cara perusahaan merekrut dan mengembangkan talenta. Karena itu, perguruan tinggi harus mampu menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
“Saat ini orang tua semakin cerdas dalam memilih kampus untuk anaknya. Mereka tidak hanya melihat biaya pendidikan, tetapi juga mempertimbangkan apakah kampus tersebut mampu memberikan pengalaman industri, membangun kompetensi digital, dan membuka peluang karier yang nyata setelah lulus,” ujar Vivi.
Menurutnya, pertimbangan utama dalam memilih kampus kini mulai bergeser dari sekadar status institusi menuju kualitas hasil yang dapat dirasakan mahasiswa setelah lulus. Orang tua semakin melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk masa depan anak.
“Di era ekonomi digital, kesiapan kerja dan relevansi kompetensi menjadi investasi yang jauh lebih penting daripada sekadar mempertimbangkan status perguruan tinggi,” jelas Vivi.
Ia menjelaskan, Prodi Bisnis Digital Cyber University dirancang untuk menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang. Kurikulumnya memadukan ilmu bisnis, teknologi informasi, analisis data, digital marketing, hingga kewirausahaan digital dalam satu ekosistem pembelajaran.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori bisnis dan teknologi, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam situasi nyata yang dihadapi perusahaan. Karena itu, pengalaman industri menjadi bagian penting dari proses belajar,” ujarnya.
Lulusan Program Studi Bisnis Digital dipersiapkan untuk mengisi berbagai profesi yang banyak dibutuhkan di era digital. Di antaranya sebagai Business Analyst, Data Analyst, Digital Entrepreneur, hingga Business and Finance Consultant.
Menurut Vivi, kebutuhan terhadap talenta digital terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi lulusan yang memiliki kombinasi kemampuan bisnis dan teknologi.
“Perusahaan saat ini mencari individu yang memiliki kompetensi yang terukur, portofolio yang kuat, dan pengalaman yang relevan. Karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan berinteraksi langsung dengan dunia industri sejak masih kuliah,” katanya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Cyber University menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan teknologi, startup, fintech, dan industri digital lainnya. Kerja sama tersebut dilakukan untuk memastikan kurikulum yang diterapkan tetap selaras dengan perkembangan pasar kerja.
Selain itu, Cyber University menerapkan konsep Company Learning Program (CLP) 3+1 atau tiga tahun kuliah dan satu tahun pengalaman industri. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman profesional sebelum menyelesaikan studi.
“Kami percaya pengalaman industri tidak bisa dipisahkan dari proses pendidikan modern. Melalui program CLP 3+1, mahasiswa dapat memahami budaya kerja profesional, membangun jejaring, dan mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan industri sejak dini,” tutur Vivi.
Ia menambahkan bahwa perubahan paradigma dalam memilih perguruan tinggi menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapan karier. Kampus tidak lagi hanya menjadi tempat memperoleh gelar, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kompetensi dan pengalaman profesional.
“Pendidikan tinggi hari ini bukan hanya tentang lulus dan mendapatkan ijazah. Yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa memiliki kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan memberikan kontribusi di tengah perubahan yang begitu cepat,” ucap Vivi.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap kampus yang menawarkan pengalaman industri menunjukkan adanya perubahan cara pandang dalam memilih pendidikan tinggi. Di tengah pesatnya transformasi digital, keterhubungan dengan industri, kompetensi yang relevan, dan pengalaman kerja menjadi faktor yang semakin diperhatikan untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.





