YOGYAKARTA – Tim Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar kegiatan Riset dan Inventarisasi Tanaman Pewarna Alam pada Selasa (6/1/2026) pukul 09.00–12.00 WIB. Kegiatan berlangsung di Ruang Perpustakaan Universitas BSI Kampus Yogyakarta, Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman, D.I. Yogyakarta, sebagai bagian dari penguatan riset pewarna alami untuk batik berbasis kearifan lokal.
Rapat dipimpin oleh Ketua Tim, R. Jatinurcahyo, ST, MM., dan dihadiri Yulianto, SE, MM; Eko Saputro, M.Kom; Atun Yulianto, SE, MM; Akhmad Syukron, M.Kom; Supriyanta, M.Kom; serta Syaid Andika, S.Kom. Agenda utama pertemuan ini adalah identifikasi tanaman pewarna alam untuk batik yang relevan, aplikatif, dan berkelanjutan.
Dalam pembahasan, tim memetakan sejumlah jenis tanaman yang selama ini dikenal sebagai sumber warna alami. Tanaman Indigofera tinctoria menjadi sorotan sebagai penghasil warna biru yang telah lama digunakan dalam tradisi tekstil Nusantara. Selain itu, kayu Caesalpinia sappan atau secang dibahas sebagai sumber warna merah alami dengan karakter hangat. Untuk warna kuning, tim mengulas potensi kayu tegeran dari spesies Cudrania javanensis yang memiliki pigmen cerah dan cukup stabil.
Ketua Tim, R. Jatinurcahyo, menjelaskan bahwa pemilihan tanaman tidak hanya mempertimbangkan intensitas warna, tetapi juga aspek ketersediaan bahan baku dan kemudahan proses ekstraksi. “Kami ingin memastikan bahwa tanaman yang diidentifikasi benar-benar aplikatif bagi perajin batik, baik dari sisi teknis maupun keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Diskusi juga menyoroti teknik ekstraksi warna, mulai dari proses perebusan, fermentasi, hingga penggunaan mordant untuk mengikat warna pada serat kain. Sejumlah kendala turut dibahas, seperti kestabilan warna yang cenderung bervariasi, waktu produksi yang lebih panjang dibandingkan pewarna sintetis, serta kebutuhan standarisasi prosedur agar hasilnya konsisten.
Meski demikian, tim sepakat bahwa pewarna alam memiliki sejumlah keunggulan signifikan. Selain lebih ramah lingkungan karena minim limbah kimia, warna yang dihasilkan memiliki karakter lembut dan estetika khas yang sulit ditiru oleh zat sintetis. Nilai tambah inilah yang dinilai mampu meningkatkan daya saing produk batik berbasis riset.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI yang terintegrasi dengan dukungan pendanaan LPDP. Melalui kolaborasi tersebut, UBSI memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi yang aktif mendorong penelitian budaya dan inovasi berbasis tradisi.
Hasil rapat menyepakati dua capaian utama. Pertama, tersusun daftar awal tanaman pewarna alam yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Kedua, tim menetapkan beberapa bahan prioritas yang akan digunakan dalam tahap uji coba pewarnaan.
Sebagai tindak lanjut, tim merumuskan rencana persiapan bahan untuk uji pewarnaan serta pelaksanaan eksperimen warna pada kain, sebelum direkomendasikan sebagai referensi dalam pengembangan batik berbasis pewarna alami.
Melalui riset dan inventarisasi tanaman pewarna alam ini, UBSI bersama Tim Hibah Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI berharap dapat menghadirkan kontribusi nyata dalam pelestarian teknik pewarnaan tradisional sekaligus mendorong praktik industri batik yang lebih berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.





