Pendidikan

Perguruan Tinggi dan Seni Bermimpi di Tengah Deru Mesin Industri

×

Perguruan Tinggi dan Seni Bermimpi di Tengah Deru Mesin Industri

Sebarkan artikel ini

Bekasi – Ada hal lucu tapi juga indah soal Cikarang. Kota ini hidup dari mesin, tapi diam-diam banyak anak mudanya justru bermimpi lewat pikiran. Di tengah suara pabrik dan hiruk pikuk karyawan berangkat shift malam, berdiri satu tempat yang aromanya bukan oli, tapi cita-cita yaitu Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Cikarang.

UBSI kampus Cikarang ini unik. Ia tidak sibuk memoles diri dengan jargon muluk, tapi justru menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan zaman, yaitu realitas. Di sini, mahasiswa nggak cuma diajar teori, tapi juga dikasih ruang buat berantem sama kenyataan. Karena dunia kerja itu nggak seindah feed LinkedIn.

“Kampus ini bukan sekadar tempat kuliah, tapi ekosistem kreatif yang mendorong mahasiswa untuk produktif dan berani tampil beda,” kata Rina Setyawati, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang suaranya penuh semangat.

Kalimatnya kedengarannya klise, tapi kalau kamu lihat kesehariannya, kamu bakal paham. Anak-anak UBSI kampus Cikarang tuh bukan tipikal generasi rebahan yang cuma bisa ngetwit soal burnout. Mereka betulan belajar dan kerja keras.

Kepala Kampus UBSI kampus Cikarang, Nurul Ichsan, juga punya pandangan yang cukup menampar. “Kami tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tapi juga tangguh menghadapi dunia kerja yang berubah cepat. UBSI kampus Cikarang ingin menjadi rumah bagi mereka yang punya mimpi besar dan keberanian untuk mewujudkannya,” ujarnya dengan nada tenang tapi dalam.

Dan iya, kata “rumah” itu terasa pas banget. Karena kampus ini bukan tempat kamu datang lalu pergi. Ia seperti ruang aman buat tumbuh, gagal, lalu mencoba lagi.

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif punya akreditasi Unggul, fasilitas lengkap, dan enam program studi yang siap tempur menghadapi zaman, mulai dari Teknologi Informasi, Sistem Informasi, Teknik Industri, Akuntansi, Manajemen, sampai Ilmu Komunikasi. Tapi yang paling menarik justru bukan daftar jurusannya. Melainkan caranya mereka mengajar anak muda untuk tidak takut gagal.

Ada juga kelas malam dan kelas karyawan, yang jadi penyelamat bagi mereka yang siangnya kerja tapi tetap ingin kuliah. Karena di UBSI, belajar itu bukan soal umur atau waktu, tapi soal tekad. Kadang kamu baru pulang kerja jam lima sore, tapi tetap datang ke kampus demi masa depan yang kamu tulis sendiri.

UBSI kampus Cikarang juga punya berbagai beasiswa, mulai dari Jalur Undangan sampai Talenta Digital. Semua program ini seakan mau bilang bahwa pendidikan seharusnya nggak eksklusif. Siapa pun yang punya niat dan usaha, pantas diberi kesempatan.

Dan kalau kamu kira kampus ini cuma isinya coding dan laporan keuangan, kamu salah besar. Ada UKM Robotika, Jurnalistik, E-Sports, Kewirausahaan, sampai Tari dan Musik. Di sinilah mahasiswa menemukan ritme hidup mereka. Kadang di antara tugas, mereka tetap sempat latihan nari atau nge-game bareng. Karena hidup mahasiswa bukan cuma soal nilai, tapi juga soal menemukan diri.

UBSI kampus Cikarang sudah melahirkan banyak alumni yang tersebar di industri, dari profesional sampai pengusaha. Tapi lebih dari itu, kampus ini sedang melatih cara berpikir yang sederhana tapi kuat, kalau dunia berubah cepat, manusia juga harus belajar lebih cepat tanpa kehilangan akal sehat.

Di tengah deru mesin industri, di antara lampu pabrik yang menyala sepanjang malam, UBSI kampus Cikarang berdiri seperti lentera kecil. Mengingatkan kita bahwa di balik semua kesibukan dan target kerja, selalu ada ruang untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi.

Dan mungkin, di masa depan, suara mesin itu tak lagi terdengar bising, tapi seperti irama. Irama yang menandai satu hal sederhana, anak-anak Cikarang sedang bersiap menulis sejarahnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *