Sukabumi – Ballroom Hotel Laska Sukabumi dipenuhi antusiasme ratusan peserta dari berbagai sekolah dalam Independence Day – Artificial Intelligence Conference 2025. Acara ini digelar oleh Digital Creative Community (DICO) dengan dukungan penuh Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai sponsor utama. UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, mendorong generasi muda untuk memahami dan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara bijak, baik dalam pendidikan maupun bisnis. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (15/8).
Sesi pertama menghadirkan Verry Riyanto, Head of Technology and Information UBSI, dan Daniel Manihuruk, Co-Founder AICO. Diskusi berfokus pada etika penggunaan AI, keamanan data, serta strategi adaptasi guru dan siswa di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Verry menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penggunaan AI, terutama di dunia pendidikan. Ia menekankan tiga pedoman utama Kemendikbud 2024: integritas, keamanan data, dan kebijakan penggunaan AI. Ia mengingatkan bahwa AI bukan pengganti manusia, melainkan alat untuk membantu memilah informasi yang benar dari hoaks.
Sebelum membahas lebih jauh tentang adaptasi pendidikan, Daniel Manihuruk memberi ilustrasi sederhana mengenai AI. Ia menyampaikan bahwa AI dapat diibaratkan sebagai “menu baru” di restoran; menarik untuk dicoba, namun pemahaman terhadap disiplin ilmu tetap menjadi kunci menghasilkan output berkualitas.
Sesi kedua menghadirkan David Rizal, Vice President of Content Postinc Media; Rifki Abdussalam Al Marwadi, Account Officer BRI; dan Alvin, Digital Innovator Bank BCA. Para narasumber membahas bagaimana generasi muda dapat memanfaatkan AI dan teknologi digital untuk membangun bisnis dan kreativitas secara efektif.
David Rizal menekankan pentingnya strategi dan riset tren sebelum membuat konten, agar generasi muda bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Rifki dan Alvin menambahkan bahwa penguasaan bahasa Inggris, keterampilan komputer, serta pemahaman AI menjadi faktor kunci bagi konten kreatif dan inovatif.
Depi Rahyuwinata, Guru Bimbingan Konseling, membagikan kesannya setelah mengikuti sesi pendidikan. Ia menyampaikan bahwa materi yang dibawakan memberikan wawasan baru, khususnya bagi pendidik yang jarang bersentuhan langsung dengan teknologi.
“Generasi muda mungkin sudah akrab dengan AI, tapi bagi kami yang lebih senior, ini menjadi dorongan untuk belajar lagi dan menerapkannya di pendidikan,” ujar Depi dalam keterangan tertulis, Jumat (15/8).
Ghea Djanie, salah satu peserta, menceritakan pengalaman pribadinya mengikuti acara ini. Ia merasa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk pengembangan diri dan rencana masa depan.
“Seru banget. Saya mendapat wawasan, pengalaman, dan relasi baru. Materinya keren dan bisa langsung diterapkan,” kata Ghea.
Kedua pihak berharap kegiatan seperti ini rutin diadakan dan melibatkan lebih banyak guru serta siswa agar wawasan teknologi dapat tersebar lebih luas di kalangan pelajar.
Sebagai penutup, seluruh peserta pulang dengan bekal inspirasi, pengetahuan, dan motivasi baru. Seminar ini menegaskan bahwa AI bukan ancaman, melainkan peluang besar yang dapat dimanfaatkan secara kreatif, produktif, dan inovatif oleh generasi muda.





