Info KampusTeknologi

Ketika AI Ikut Merdeka, Dari Panjat Pinang ke Panggung Digital di Cikampek

×

Ketika AI Ikut Merdeka, Dari Panjat Pinang ke Panggung Digital di Cikampek

Sebarkan artikel ini

Karawang – Agustus biasanya identik dengan bendera merah putih di tiap gang, lomba makan kerupuk yang jatuhnya lebih banyak ke baju ketimbang ke mulut, dan bapak-bapak yang rela mandi oli demi panjat pinang. Tapi tahun ini, ada yang sedikit beda di Cikampek. Tepatnya di aula Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cikampek, Kamis (28/8) mendatang.

Bukan lomba balap karung, bukan juga tarik tambang. Tapi sebuah Seminar Kemerdekaan Digital dengan tema yang bikin jidat kita agak berkerut sekaligus penasaran, yaitu “Artificial Intelligence for Education and Business”.

Di era ketika AI bisa bikin puisi, gambar, bahkan ngelucu lebih cepat daripada manusia yang baru mikir punchline, pertanyaan pentingnya adalah kita siap nggak menghadapi itu semua?

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif nggak mau tinggal diam. Mereka bikin acara ini sebagai bentuk refleksi kemerdekaan versi 80 tahun Indonesia, bukan lagi melawan penjajah bersenjata, tapi melawan ketertinggalan teknologi. Karena, jujur aja, kalau mahasiswa sekarang masih gagap sama AI, bisa-bisa lima tahun lagi digeser sama bot canggih yang kerjanya nggak kenal lembur dan nggak pernah minta THR.

Sebagai tuan rumah, Mohamad Syamsul Aziz, Kepala Kampus UBSI kampus Cikampek, menegaskan pentingnya kesiapan generasi muda. Katanya, “Pendidikan tinggi hari ini punya tugas berat, bukan sekadar ngasih teori, tapi juga membentuk mahasiswa yang berani dan mampu menguasai teknologi masa depan. AI ini bukan untuk ditakuti, tapi untuk dikuasai.”

Syamsul juga menyelipkan refleksi soal semangat kemerdekaan, “Kalau dulu kita berjuang merebut kemerdekaan dengan bambu runcing, sekarang perjuangannya lewat literasi digital dan penguasaan teknologi. Mahasiswa harus sadar, inilah medan baru perjuangan mereka.”

Kalau biasanya seminar kampus identik dengan “snack ala kadarnya”, kali ini panitia menjanjikan paket lengkap yaitu sertifikat, snack, souvenir eksklusif, plus info beasiswa pendidikan UBSI. Jadi selain dapet ilmu, pulang pun tangan nggak kosong.

Tentu, semua ada harganya. Biaya pendaftaran dibuat bertingkat, mahasiswa Rp50.000, dosen Rp100.000, dan masyarakat umum Rp200.000. Murah? Relatif. Tapi coba bandingin sama harga tiket konser internasional yang bisa bikin tabungan amblas, dengan uang segini, kamu bisa dapet ilmu yang kepake buat masa depan.

Seminar ini bukan sekadar ajang kumpul. UBSI mau nunjukin kalau kemerdekaan zaman sekarang itu bukan cuma soal bebas ngomong atau bebas milih jurusan kuliah. Tapi juga bebas memanfaatkan teknologi secara kreatif, produktif, dan bertanggung jawab.

Syamsul menutup dengan kalimat yang agak nyelekit tapi ngena, “Kemerdekaan digital itu bukan cuma soal siapa yang bisa update status duluan. Tapi siapa yang bisa manfaatin teknologi untuk bikin perubahan nyata. Jangan sampai kita merdeka di dunia nyata, tapi masih ‘dijajah’ sama ketidaktahuan di dunia digital.”

Dan benar juga. Di tengah dunia yang makin cepat berubah, generasi muda Indonesia butuh lebih dari sekadar semangat 45. Mereka butuh semangat upgrade skill 2025. Karena kalau dulu musuh kita Belanda, sekarang musuhnya bisa jadi rasa malas update pengetahuan.

Jadi, kalau tanggal 28 Agustus nanti ada yang bilang, “Yuk ikut seminar AI di UBSI kampus Cikampek,” jangan keburu males. Ingat, dunia sudah nggak lagi soal siapa yang paling kuat lari di lomba karung, tapi siapa yang paling cepat adaptasi di dunia digital.

Karena di era ini, kemerdekaan itu bentuknya bisa macam-macam, mulai dari bendera, puisi, atau bahkan sekadar sertifikat seminar AI yang bikin kamu lebih pede melangkah ke masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *