Info KampusTeknologi

Tak Ada Sistem 100% Aman, Tapi Mahasiswa Bisa Lebih Cerdas dari Peretas

×

Tak Ada Sistem 100% Aman, Tapi Mahasiswa Bisa Lebih Cerdas dari Peretas

Sebarkan artikel ini

Tasikmalaya — Dunia digital terus bergerak maju, dan bersamaan dengan itu, kejahatan siber juga berkembang semakin kompleks. Namun di tengah berbagai risiko tersebut, hal terpenting yang tak tergantikan adalah kesadaran dari para penggunanya. Hal ini menjadi sorotan Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Tasikmalaya, dalam menekankan pentingnya literasi dan ketahanan digital di kalangan mahasiswa.

Menurutnya, tidak ada sistem digital yang benar-benar aman. Bahkan sistem dengan pengamanan terbaik sekalipun tetap memiliki potensi celah yang bisa dimanfaatkan oleh peretas. Oleh karena itu, kesiapan individu menjadi sangat penting dalam menghadapi ancaman digital.

“Tidak ada sistem digital yang benar-benar aman. Tapi kita bisa membekali diri dengan pengetahuan, kebiasaan baik, dan sikap kritis yang membuat kita lebih siap daripada para pelaku kejahatan digital,” ungkap Bambang dalam keterangan tertulis, Senin (28/7).

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang sangat rentan menjadi target serangan siber. Kurangnya kesadaran akan pentingnya keamanan data pribadi sering membuat mereka melakukan kesalahan umum, seperti menggunakan password yang mudah ditebak, sembarangan mengklik tautan, atau mengunggah informasi pribadi secara terbuka di media sosial.

Ia berpendapat, mahasiswa harus memiliki pola pikir seperti seorang white hacker yakni memahami bagaimana sistem bekerja, bukan untuk disalahgunakan, melainkan agar dapat mengenali dan mencegah potensi serangan.

“Mahasiswa kita dorong untuk menjadi pengguna yang cerdas dan aktif. Jangan hanya mengandalkan teknologi dan berharap semuanya berjalan aman. Justru manusialah yang harus menjadi pengendali dari sistem yang digunakan,” jelasnya.

UBSI yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif berkomitmen terhadap perkembangan digital, juga telah mengintegrasikan isu-isu keamanan siber ke dalam materi pembelajaran. Kolaborasi dengan mitra industri serta penguatan budaya sadar digital turut mendukung pembentukan lulusan yang adaptif terhadap tantangan era teknologi, termasuk dalam hal keamanan data.

Sebagai seorang dosen, Bambang mengajak kepada mahasiswa untuk lebih peduli terhadap privasi dan keamanan pribadi dalam aktivitas digital sehari-hari.

“Kita memang hidup di zaman serba online. Tapi jangan sampai data dan privasi kita dikendalikan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Jadilah pengguna yang lebih pintar dari peretas,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *