KesehatanPendidikanTeknologi

Romansa Remaja Bisa Mematikan: Waspadai Spilis Si Peniru Ulung Oleh Firdaus Djasad, MM – Staf Akademik & Humas , Akademi Keperawatan Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)

×

Romansa Remaja Bisa Mematikan: Waspadai Spilis Si Peniru Ulung Oleh Firdaus Djasad, MM – Staf Akademik & Humas , Akademi Keperawatan Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)

Sebarkan artikel ini

Jakarta-Di balik gemerlap kisah cinta remaja masa kini, ada bahaya yang mengintai diam-diam—namanya spilis, atau dalam istilah medis: sifilis. Mungkin terdengar asing, tapi jangan anggap remeh. Penyakit menular seksual ini bisa menjadi bom waktu kesehatan yang mematikan jika tidak dikenali dan ditangani dengan cepat.

Spilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, dan utamanya ditularkan melalui hubungan seksual, baik vaginal, anal, maupun oral. Bahkan bisa juga menular dari ibu hamil ke bayinya—dikenal sebagai sifilis kongenital.

Ironisnya, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, justru banyak remaja yang terperangkap dalam ketidaktahuan. Bukannya mendapat edukasi seks yang sehat dan ilmiah, mereka justru dijejali informasi keliru dari media sosial, film dewasa, atau omongan teman sebaya. Akibatnya, banyak yang tak sadar saat tubuhnya mulai disusupi oleh penyakit yang dijuluki “the great imitator”—peniru ulung karena gejalanya sering disangka penyakit lain.

Lonjakan Kasus dan Fakta Mengerikan
Data Kementerian Kesehatan RI 2024 mencatat, lebih dari 35.000 kasus sifilis baru ditemukan tahun lalu. Yang mengerikan, kelompok usia 15–24 tahun menjadi penyumbang terbesar. Ini bukan sekadar angka, tapi cermin darurat edukasi kesehatan seksual di kalangan remaja.

Lebih tragis lagi, 1.700 bayi tercatat lahir dengan sifilis kongenital. Artinya, bukan hanya remaja yang terancam, tapi juga generasi berikutnya. Ini alarm keras bahwa skrining sifilis pada ibu hamil masih sangat lemah dan belum jadi prioritas utama.

Kenapa Remaja Sangat Rentan?
Remaja hidup dalam dunia digital yang serba terbuka, tapi akses pada informasi yang benar masih tertutup. Seks dianggap tabu dibicarakan di rumah dan sekolah. Akibatnya, remaja memilih diam, malu bertanya, dan akhirnya nekat mencoba tanpa tahu risikonya.

Satu studi di Jakarta bahkan menunjukkan bahwa lebih dari 60% remaja tidak tahu spilis bisa menular melalui seks oral. Banyak dari mereka merasa “aman” tanpa sadar sedang bermain api.

Tahapan Spilis yang Harus Dikenali
Spilis berkembang melalui empat tahap:

1. Tahap Primer: Luka kecil di kelamin, mulut, atau anus—tidak sakit, sering tak disadari.

2. Tahap Sekunder: Muncul ruam di telapak tangan/kaki, nyeri sendi, demam.

3. Tahap Laten: Gejala menghilang, tapi bakteri tetap aktif dalam tubuh.

4. Tahap Tersier: Setelah bertahun-tahun, menyerang jantung, otak, bahkan bisa berujung pada kematian.

Pencegahan Itu Kunci
Spilis bisa dicegah. Bisa diobati. Tapi jangan tunggu sampai terlambat. Berikut yang perlu dilakukan:
1. Edukasi seksual yang terbuka dan benar, mulai dari sekolah hingga rumah.

2. Gunakan kondom, bahkan saat seks oral.

3. Hindari seks bebas dan berganti-ganti pasangan.

4. Rutin tes kesehatan, khususnya jika aktif secara seksual.

5. Periksa diri ke puskesmas atau layanan VCT saat merasakan gejala.

Buat remaja yang ingin berkontribusi lebih untuk kesehatan masyarakat, jadi perawat adalah pilihan karier yang membanggakan. Bukan cuma di dalam negeri, profesi ini juga dibutuhkan di level internasional.

Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) membuka peluang bagi kamu untuk menjadi Perawat Profesional Masa Depan melalui Program Studi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *