Jakarta-Pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tentang pentingnya penguasaan Artificial Intelligence (AI) dan blockchain bagi generasi muda kembali mengguncang ruang diskusi publik. Di satu sisi, ini mencerminkan keberanian untuk mengangkat isu masa depan ke panggung nasional. Namun di sisi lain, ia juga menguak persoalan yang lebih dalam: populisme teknologi yang menjanjikan kemajuan, tapi sering kali tanpa peta jalan yang jelas.
Lewat podcast Forum Keadilan bertajuk Madilog, Prof. Sulfikar Amir, sosiolog teknologi dari Nanyang Technological University, bersama jurnalis senior Darmawan Sepriyossa, mengajak kita berpikir lebih dalam: apakah narasi AI ini murni soal kemajuan, atau sekadar kosmetika politik?
“Sering kali jargon seperti AI dan blockchain digunakan untuk memoles citra progresif, padahal tidak dibarengi infrastruktur pengetahuan dan literasi yang memadai,” kata Prof. Sulfikar. Ucapannya menjadi semacam cermin, memantulkan realitas di mana teknologi kerap dijual sebagai harapan, tapi dibungkus dengan minimnya pemahaman substantif.
Teknologi dan Janji Kosong yang Mengilap
Di era politik yang kian mengandalkan pencitraan, teknologi menjadi komoditas simbolik. Elite politik bicara tentang revolusi digital, seolah itu adalah tiket menuju masa depan gemilang. Namun di balik pidato dan pernyataan itu, masih banyak daerah di Indonesia yang kesulitan sinyal, belum tersentuh pelatihan digital, apalagi bicara soal AI.
Ironisnya, narasi digital kerap hanya menyentuh kalangan muda perkotaan, menciptakan bubble optimism yang seolah semua anak muda siap menjadi techpreneur. Padahal, kenyataan jauh lebih kompleks. Ada kesenjangan akses, ketimpangan sumber daya, dan yang lebih berbahaya: ketimpangan pemahaman.
Literasi Kritis: Bekal yang Terlupakan
Mendorong generasi muda untuk menguasai AI tentu langkah yang visioner. Tapi akan menjadi mimpi kosong jika tidak disertai pendidikan literasi digital yang kritis. Bukan hanya belajar coding, tapi juga mengerti siapa yang menciptakan teknologi, bagaimana ia bekerja, dan kepada siapa ia berpihak.
Pertanyaan-pertanyaan etis seperti: apakah AI memperluas partisipasi atau justru menyempitkan? Apakah blockchain mendemokratisasi, atau hanya menguntungkan segelintir orang? harus diajarkan di ruang-ruang kelas, diskusi, dan media.
Narasi Boleh Maju, Tapi Jangan Kabur dari Realitas
Di tengah transformasi digital yang tengah berlangsung, para pemimpin seharusnya tidak hanya membangun narasi tentang masa depan. Mereka juga harus memperbaiki fondasi di masa kini. Literasi digital bukan soal menjadikan anak muda pengguna AI, tapi menjadikan mereka pemikir kritis yang bisa memandu ke mana arah AI harus dibawa bukan sebaliknya.





