<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UBSI Kampus Sukabumi Arsip - JogjaHitz.com</title>
	<atom:link href="https://jogjahitz.com/tag/ubsi-kampus-sukabumi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jogjahitz.com/tag/ubsi-kampus-sukabumi/</link>
	<description>Info Jogja Terkini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 May 2026 13:14:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://jogjahitz.com/wp-content/uploads/2025/07/cropped-Favicon-JogjaHitz-scaled-1-32x32.png</url>
	<title>UBSI Kampus Sukabumi Arsip - JogjaHitz.com</title>
	<link>https://jogjahitz.com/tag/ubsi-kampus-sukabumi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>FGD Hibah Kemdiktisaintek Jadi Bukti Kiprah Dosen UBSI Kampus Sukabumi Dorong Modernisasi Budidaya Ikan</title>
		<link>https://jogjahitz.com/fgd-hibah-kemdiktisaintek-jadi-bukti-kiprah-dosen-ubsi-kampus-sukabumi-dorong-modernisasi-budidaya-ikan/</link>
					<comments>https://jogjahitz.com/fgd-hibah-kemdiktisaintek-jadi-bukti-kiprah-dosen-ubsi-kampus-sukabumi-dorong-modernisasi-budidaya-ikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aura ayunda]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 May 2026 13:12:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Hibah Kemdiktisaintek]]></category>
		<category><![CDATA[UBSI Kampus Sukabumi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jogjahitz.com/?p=5890</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sukabumi &#8211; Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI)...</p>
<p>Artikel <a href="https://jogjahitz.com/fgd-hibah-kemdiktisaintek-jadi-bukti-kiprah-dosen-ubsi-kampus-sukabumi-dorong-modernisasi-budidaya-ikan/">FGD Hibah Kemdiktisaintek Jadi Bukti Kiprah Dosen UBSI Kampus Sukabumi Dorong Modernisasi Budidaya Ikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jogjahitz.com">JogjaHitz.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sukabumi &#8211; Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif kembali menunjukkan kiprah dan kontribusinya dalam mendukung transformasi digital di tengah masyarakat melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Tahun 2026 yang didanai DPPM Kemdiktisaintek. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (19/5) di Kampung Kutatengah RT 10 RW 004, Desa Kutasirna, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi ini menjadi langkah nyata dosen UBSI dalam menghadirkan inovasi teknologi untuk sektor budidaya perikanan dan UMKM.</p>
<p>Mengusung program bertajuk Optimalisasi Produktivitas Budidaya Ikan pada Pokdakan Teratai Fish Farm Melalui Sistem Aerasi dan Pengelolaan Keuangan Digital, kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Di baliknya, ada upaya serius para dosen UBSI untuk membawa teknologi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku usaha budidaya ikan yang selama ini masih menghadapi berbagai kendala produksi dan pengelolaan usaha.</p>
<p>Ketua tim pelaksana, Rusda Wajhillah, bersama anggota Yuri Rahayu dan Ita Yulianti, serta melibatkan mahasiswa Nur Hidayat Suharlan dan Rahma Sri Melati Putri, memaparkan langsung konsep penerapan teknologi aerasi dan sistem pengelolaan keuangan digital kepada mitra Pokdakan Teratai Fish Farm.</p>
<p>Dalam pemaparannya, Rusda menjelaskan bahwa teknologi aerasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas oksigen di kolam budidaya sehingga proses pembibitan hingga pembesaran ikan dapat berjalan lebih optimal dan meminimalisasi risiko kematian ikan.</p>
<p>“Program ini kami rancang bukan hanya untuk membantu meningkatkan hasil produksi budidaya ikan, tetapi juga agar pelaku usaha mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, terutama dalam pengelolaan keuangan dan manajemen usaha yang lebih modern,” ujar Rusda dalam keterangan tertulis, Rabu (20/5).</p>
<p>Ia juga menambahkan bahwa pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen UBSI tidak boleh berhenti pada teori semata. Menurutnya, inovasi harus benar-benar hadir sebagai solusi nyata yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.</p>
<p>FGD tersebut mendapat sambutan positif dari Ahmad Rifa’i selaku pimpinan mitra Pokdakan Teratai Fish Farm. Ia menyebut kebutuhan teknologi aerasi, khususnya alat kincir air, memang menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menunjang produktivitas budidaya ikan.</p>
<p>“Kami sangat menyambut baik kolaborasi ini karena memang kebutuhan aerasi sangat penting dalam proses budidaya ikan, mulai dari pembibitan sampai pembesaran. Harapannya, program ini bisa membantu meningkatkan hasil produksi dan mendukung perkembangan usaha kelompok kami,” ungkapnya.</p>
<p>Tak hanya fokus pada peningkatan kualitas budidaya ikan, tim dosen UBSI juga menghadirkan solusi pengelolaan keuangan digital berbasis web yang dirancang untuk membantu mitra melakukan pencatatan usaha secara lebih rapi, efisien, dan terukur. Langkah ini menjadi bagian penting agar UMKM perikanan mampu berkembang lebih adaptif di era digital.</p>
<p>Menariknya, program ini tidak berhenti di tahap diskusi saja. Tim pelaksana akan melanjutkan kegiatan melalui pendampingan dan pelatihan intensif kepada anggota kelompok budidaya ikan. Mulai dari cara mengoperasikan alat aerasi, perawatan, hingga pengelolaan sistem keuangan digital akan diberikan secara langsung agar mitra mampu mandiri dalam menjalankan usahanya.</p>
<p>Melalui program hibah ini, dosen dan mahasiswa UBSI Sukabumi kembali membuktikan bahwa dunia akademik bukan sekadar tempat belajar teori di ruang kelas. Lebih dari itu, kampus hadir menjadi jembatan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.</p>
<p>Sebagai Kampus Digital Kreatif, UBSI kampus Sukabumi terus mendorong dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan karya, inovasi, serta program pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat. Karena di tengah perkembangan zaman yang bergerak cepat, teknologi seharusnya tidak hanya dinikmati kota-kota besar, tetapi juga mampu menghidupkan kolam-kolam usaha kecil yang selama ini terus berjuang dalam diam.</p>
<p>Artikel <a href="https://jogjahitz.com/fgd-hibah-kemdiktisaintek-jadi-bukti-kiprah-dosen-ubsi-kampus-sukabumi-dorong-modernisasi-budidaya-ikan/">FGD Hibah Kemdiktisaintek Jadi Bukti Kiprah Dosen UBSI Kampus Sukabumi Dorong Modernisasi Budidaya Ikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jogjahitz.com">JogjaHitz.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jogjahitz.com/fgd-hibah-kemdiktisaintek-jadi-bukti-kiprah-dosen-ubsi-kampus-sukabumi-dorong-modernisasi-budidaya-ikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perang Melawan &#8216;Scroll&#8217; dan &#8216;Mood&#8217; Mahasiswa: Mengapa Jurnal Ilmiah Tetap Terjebak di Layar Kaca?</title>
		<link>https://jogjahitz.com/perang-melawan-scroll-dan-mood-mahasiswa-mengapa-jurnal-ilmiah-tetap-terjebak-di-layar-kaca/</link>
					<comments>https://jogjahitz.com/perang-melawan-scroll-dan-mood-mahasiswa-mengapa-jurnal-ilmiah-tetap-terjebak-di-layar-kaca/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aura ayunda]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2026 14:57:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[UBSI Kampus Sukabumi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jogjahitz.com/?p=5130</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sukabumi &#8212; Dunia akademik kerap menempatkan publikasi jurnal...</p>
<p>Artikel <a href="https://jogjahitz.com/perang-melawan-scroll-dan-mood-mahasiswa-mengapa-jurnal-ilmiah-tetap-terjebak-di-layar-kaca/">Perang Melawan &#8216;Scroll&#8217; dan &#8216;Mood&#8217; Mahasiswa: Mengapa Jurnal Ilmiah Tetap Terjebak di Layar Kaca?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jogjahitz.com">JogjaHitz.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sukabumi &#8212; Dunia akademik kerap menempatkan publikasi jurnal ilmiah sebagai tantangan yang terasa lebih menakutkan dibanding ujian akhir. Fenomena “naskah abadi” yang tak kunjung selesai, tersimpan rapi di laptop tanpa perkembangan berarti, sudah menjadi cerita umum di kalangan mahasiswa tingkat akhir dan akademisi muda. Kursor yang hanya berkedip di layar sering kali menjadi simbol kebuntuan berpikir sekaligus lemahnya daya dorong untuk memulai.</p>
<p>Sebuah infografis dari Literasi Sains Indonesia mengungkap bahwa prokrastinasi akademik bukan sekadar persoalan malas. Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran perilaku akademik yang dipengaruhi kuat oleh ekosistem digital. Penundaan menulis jurnal kini merupakan persoalan kompleks yang melibatkan faktor psikologis, teknologi, hingga pola komunikasi akademik.</p>
<p>Fenomena “scroll” media sosial menjadi penyumbang terbesar, yakni 30,00% penyebab mandeknya penulisan jurnal. Kondisi ini mencerminkan realitas ekonomi perhatian, di mana fokus manusia menjadi komoditas yang diperebutkan algoritma. Platform digital dirancang memberi gratifikasi instan berupa hiburan singkat dan rangsangan visual cepat. Sebaliknya, menulis jurnal menuntut kerja mendalam, konsentrasi panjang, serta hasil yang tidak langsung terasa. Ketimpangan ini membuat otak lebih mudah memilih layar gawai dibanding tumpukan jurnal ilmiah.</p>
<p>Selain faktor digital, hambatan internal juga berperan signifikan. Mitos “menunggu mood” menyumbang 25,00%, disusul perasaan “belum siap mental” sebesar 10,00%. Jika digabungkan, lebih dari sepertiga hambatan berasal dari dalam diri mahasiswa. Menunggu mood sering kali berkaitan dengan perfeksionisme, yaitu keinginan menulis dalam kondisi ideal yang nyaris tidak pernah datang. Padahal, penulisan ilmiah adalah proses bertahap yang membutuhkan disiplin, bukan inspirasi sesaat. Ketidaksiapan mental juga muncul karena jurnal dipersepsikan sebagai beban besar yang harus diselesaikan sekaligus, bukan pekerjaan yang bisa dipecah menjadi bagian kecil.</p>
<p>Hambatan lain datang dari aspek teknis dan komunikasi. Sebanyak 20,00% mahasiswa menunda karena menunggu balasan dosen, sementara 15,00% merasa malas mengatur referensi. Komunikasi yang lambat memang bisa menjadi kendala, tetapi sering kali dijadikan alasan untuk berhenti total. Padahal, banyak pekerjaan lain yang tetap bisa dilakukan sambil menunggu, seperti menyusun tinjauan pustaka atau merapikan sitasi. Ironisnya, keengganan mengelola referensi terjadi di tengah melimpahnya perangkat lunak gratis seperti Mendeley dan Zotero. Masalahnya bukan ketiadaan alat, melainkan rendahnya literasi pemanfaatannya.</p>
<p>Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif memahami tantangan ini dan mendorong mahasiswa untuk membangun kemampuan adaptasi digital serta manajemen diri. Menulis jurnal tidak cukup hanya dengan penguasaan teori, tetapi juga memerlukan strategi kerja yang realistis.</p>
<p>Mengubah pola pikir dari menunggu menjadi menjemput adalah kunci utama. Jurnal ilmiah lahir dari sistem kerja yang konsisten, bukan dari mood yang datang tiba-tiba. Membuat kerangka tulisan, menetapkan target kecil harian, serta berani melakukan tindak lanjut secara profesional adalah langkah konkret memutus siklus prokrastinasi. Mengalahkan godaan scroll dan mentalitas menunggu mood bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar jurnal tidak selamanya terjebak di layar kaca.</p>
<p>Artikel <a href="https://jogjahitz.com/perang-melawan-scroll-dan-mood-mahasiswa-mengapa-jurnal-ilmiah-tetap-terjebak-di-layar-kaca/">Perang Melawan &#8216;Scroll&#8217; dan &#8216;Mood&#8217; Mahasiswa: Mengapa Jurnal Ilmiah Tetap Terjebak di Layar Kaca?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jogjahitz.com">JogjaHitz.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jogjahitz.com/perang-melawan-scroll-dan-mood-mahasiswa-mengapa-jurnal-ilmiah-tetap-terjebak-di-layar-kaca/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
