<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sejarah Arsip - JogjaHitz.com</title>
	<atom:link href="https://jogjahitz.com/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jogjahitz.com/tag/sejarah/</link>
	<description>Info Jogja Terkini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Jul 2024 02:08:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://jogjahitz.com/wp-content/uploads/2025/07/cropped-Favicon-JogjaHitz-scaled-1-32x32.png</url>
	<title>sejarah Arsip - JogjaHitz.com</title>
	<link>https://jogjahitz.com/tag/sejarah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pasar Prawirotaman, Pasar Sejak 1943, Punya Rooftop Buat Nongkrong</title>
		<link>https://jogjahitz.com/pasar-prawirotaman-pasar-sejak-1943-punya-rooftop-buat-nongkrong/</link>
					<comments>https://jogjahitz.com/pasar-prawirotaman-pasar-sejak-1943-punya-rooftop-buat-nongkrong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Akhmad]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Dec 2023 02:56:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jogjahitz.com/?p=289</guid>

					<description><![CDATA[<p>Prawirotaman II memiliki suasana yang sedikit berbeda dengan...</p>
<p>Artikel <a href="https://jogjahitz.com/pasar-prawirotaman-pasar-sejak-1943-punya-rooftop-buat-nongkrong/">Pasar Prawirotaman, Pasar Sejak 1943, Punya Rooftop Buat Nongkrong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jogjahitz.com">JogjaHitz.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-290 aligncenter" src="https://jogjahitz.com/wp-content/uploads/2023/12/dddddd-700x400.png" alt="" width="373" height="213" /></p>
<p>Prawirotaman II memiliki suasana yang sedikit berbeda dengan Prawirotaman I. Meski sama-sama memiliki hotel di sepanjang jalan, namun di Prawirotaman II terdapat Pasar Tradisional yang beroperasi sejak tahun 1943.</p>
<p>Pasar ini terletak tepat di depan gerbang masuk Prawirotaman II, Jalan Parangtritis No. 103, Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta.</p>
<p>Pasar Prawirotaman dulunya hanyalah pasar tradisional biasa dan sederhana. Setelah dihidupkan kembali dan dibuka pada tahun 2020, pasar ini kini berdiri kokoh dengan sinkronisasi fasilitas yang jarang ditemui di pasar tradisional pada umumnya.</p>
<p>Pasar Prawirotaman memiliki empat lantai yang dilengkapi dengan eskalator dan lift. Lantai 1 hingga 3 digunakan sebagai area pasar rakyat yang menjual kebutuhan sehari-hari seperti sayuran, buah-buahan, daging, rempah-rempah, makanan ringan dan pakaian. Sedangkan lantai 4 digunakan sebagai ruang kerja seperti ruang pertemuan, studio podcast, studio fotografi, ruang kesehatan dan ruang tunggu mini.</p>
<p>Selain itu, rooftop juga digunakan sebagai tempat kuliner yang menyajikan makanan ringan dan berat mulai dari makanan khas Indonesia, Western, hingga Chinese. Rooftop ini sering dikunjungi pada sore hingga menjelang malam hari karena pengunjung dapat menyaksikan matahari terbenam atau sunset dari atas sini.</p>
<p>Pasar ini memiliki toilet yang lengkap dan parkir basement yang luas sehingga pengunjung pasar bisa merasa lebih nyaman. Beberapa pedagang juga menerima pembayaran non tunai.</p>
<p>Pedagang pasar sendiri ada yang berjualan di kios lantai 1 dan ada pula yang berjualan di los. Setiap pedagang harus membayar biaya retribusi per bulannya tergantung pada lokasi dan jumlah lahan yang mereka gunakan untuk berjualan di los.</p>
<p>“Kios gini harganya sama yang lain mahalan ini, biaya retribusinya per bulan 250 ribu. Kalau kios yang lain biasanya 150 atau 125 ribu,” kata salah satu pedagang di kios tersebut.</p>
<p>Pedagang yang berada di lantai 1 juga mempunyai keuntungan lebih karena sebagian besar pengunjung pasar mencari barang ke lantai 1 terlebih dahulu dan tidak perlu naik ke lantai atas jika sudah mendapatkan kebutuhannya.</p>
<p>“Kalau yang bagus ya di bawah, di bawah itu maksudnya pembeli tidak perlu naik lagi. Tapi ada juga yang mencari barang lebih murah, di atas biasanya melayani orang yang beli bayar, tinggal kita nanti yang mengantar,” kata Martini salah satu pedagang di lantai 2.</p>
<p>Meskipun berada di kawasan Prawirotaman, bukan berarti pasar ini hanya dipenuhi pedagang yang berada di wilayah Prawirotaman atau sekitarnya. Kebanyakan pedagang justru berasal dari daerah Bantul.</p>
<p>“Kebanyakan orang Bantul, orang Jogja kota itu tidak ada 25 orang. Dari turun temurun nenek moyang mereka, yang jual kayak gini tidak mungkin orang lain. Nanti juga mereka akan membeli tempat di sebelahnya agar lebih lebar,” kata Martini.</p>
<p>Pasar Prawirotaman beroperasi mulai jam 05.00 WIB, untuk pasar rakyat biasanya sudah tutup pada jam 12.00 WIB, sedangkan bagian foodcourt di rooftop masih buka hingga jam 21.00 WIB.</p>
<p>Artikel <a href="https://jogjahitz.com/pasar-prawirotaman-pasar-sejak-1943-punya-rooftop-buat-nongkrong/">Pasar Prawirotaman, Pasar Sejak 1943, Punya Rooftop Buat Nongkrong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jogjahitz.com">JogjaHitz.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jogjahitz.com/pasar-prawirotaman-pasar-sejak-1943-punya-rooftop-buat-nongkrong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>HUT Kota Yogyakarta Ke-267, Yuk Kenali Lebih Dalam Sejarah dan Asal-Usulnya</title>
		<link>https://jogjahitz.com/hut-kota-yogyakarta-ke-267-yuk-kenali-lebih-dalam-sejarah-dan-asal-usulnya/</link>
					<comments>https://jogjahitz.com/hut-kota-yogyakarta-ke-267-yuk-kenali-lebih-dalam-sejarah-dan-asal-usulnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Akhmad]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Nov 2023 01:26:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jogjahitz.com/?p=164</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Tepat tanggal 7 Oktober 2023, Kota Yogyakarta...</p>
<p>Artikel <a href="https://jogjahitz.com/hut-kota-yogyakarta-ke-267-yuk-kenali-lebih-dalam-sejarah-dan-asal-usulnya/">HUT Kota Yogyakarta Ke-267, Yuk Kenali Lebih Dalam Sejarah dan Asal-Usulnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jogjahitz.com">JogjaHitz.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Tepat tanggal <strong>7 Oktober 2023</strong>, Kota Yogyakarta <strong>menginjak usia ke-267.</strong> Penetapan <strong>7 Oktober sebagai HUT Kota Jogja</strong> menyimpan sejarah yang cukup panjang dari sejak zaman Kerajaan Mataram. Lalu bagaimana 7 Oktober selalu diperingati sebagai HUT Kota Yogyakarta?</p>
<p>Dikutip dari situs resmi HUT Kota Jogja, berdirinya Kota Jogja merupakan hasil dari Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Kota Jogja sendiri merupakan hasil dari perpecahan wilayah Kerajaan Mataram yang terbagi menjadi dua wilayah yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Wilayah Kasultanan Ngayogyakarta dipimpin oleh seorang bernama Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah atau disebut juga Sultan Hamengku Buwono I. Daerah yang menjadi cakupan kekuasaan Sultan Hamengku Buwono I meliputi Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, dan Bumigede serta beberapa daerah mancanegara yang mencakup Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, dan Grobogan.</p>
<p><strong>Pada tanggal 13 Maret 1755</strong> terjadi peristiwa yang dinamakan Hadeging Nagari Ngayogyakarta. Sultan Hamengku Buwono I menyatakan wilayah Mataram yang berada di bawah kekuasaannya dinamai Ngayogyakarta Hadiningrat dan menjadi ibu kota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Kemudian pembangunan keraton pun dimulai pada tanggal 9 Oktober 1755. Lokasi yang ditetapkan sebagai keraton dan difungsikan sebagai pusat pemerintahan terletak di Hutan Pabringan. Tempat ini dianggap strategis dari segi pertahanan dan keamanan. Disisi lain, saat masa pembangunan keraton, Sultan Hamengku Buwono I tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang, Gamping selama beberapa waktu sembari mengawasi pembangunan keraton baru. Pembangunan keraton akhirnya selesai pada tanggal <strong>7 Oktober 1756.</strong> Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarga dan pengikutnya segera berpindah ke wilayah tersebut. Peristiwa boyongan atau pindahan tersebut menjadi titik awal perkembangan peradaban dan budaya, maka Pemerintah Kota Jogja memilih hari tersebut sebagai tanggal pendirian Kota Jogja.</p>
<p>Dikutip dari jurnal berjudul Evaluasi Public Relations Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Untuk Menarik Wisatawan Melalui Tradisi Klangenan oleh Anwari Ramadani (2011), nama Yogyakarta atau dalam bahasa Jawa disebut Ngayogyakarta merupakan pemberian dari Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727). Nama tersebut diberikan untuk menggantikan nama pesanggrahan Garjitawati. Yogyakarta bermakna Yogya yang kerta atau Yogya yang makmur. Sementara, Ngayogyakarta Hadiningrat mengandung makna Yogya yang makmur dan yang paling utama.</p>
<p>Beberapa sumber juga mengatakan bahwa penamaan Yogyakarta berasal dari nama ibu kota Sanskrit Ayodhya dalam cerita Ramayana. Yogyakarta juga sering disebut sebagai Jogja (karta) atau Ngayogyakarta dalam bahasa Jawa oleh orang-orang dalam penggunaan sehari-hari.</p>
<p>Demikian informasi terkait sejarah dan asal-usul nama Kota Jogja. Selamat ulang tahun ke-267 Jogja!</p>
<p>Sumber : detikjogja, &#8220;Kota Jogja Ulang Tahun ke-267, Simak Sejarah dan Asal-usul Namanya&#8221; selengkapnya</p>
<p>(<a href="https://www.detik.com/jogja/jogja-kerta/d-6968460/kota-jogja-ulang-tahun-ke-267-simak-sejarah-dan-asal-usul-namanya">https://www.detik.com/jogja/jogja-kerta/d-6968460/kota-jogja-ulang-tahun-ke-267-simak-sejarah-dan-asal-usul-namanya</a>.)</p>
<p>Artikel <a href="https://jogjahitz.com/hut-kota-yogyakarta-ke-267-yuk-kenali-lebih-dalam-sejarah-dan-asal-usulnya/">HUT Kota Yogyakarta Ke-267, Yuk Kenali Lebih Dalam Sejarah dan Asal-Usulnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jogjahitz.com">JogjaHitz.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jogjahitz.com/hut-kota-yogyakarta-ke-267-yuk-kenali-lebih-dalam-sejarah-dan-asal-usulnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
